RADAR JOGJA – Untuk pertama kalinya Keraton Jogja dan Pemprov DIJ mengikuti Peringatan Perjanjian Giyanti ke-266 tahun yang digelar di Dusun Kerten Desa Jantiharjo Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah Sabtu (13/2). Diharapkan peringatan ini bisa menjadi sarana pembelajaran.

GKR Mangkubumi, yang hadir bersama GKR Condrokirono serta serta Kepala Paniradya Kaistimewan DIJ Aris Eko Nugroho, mengaku senang dan bersyukur berkesempatan mengikuti peringatan Perjanjian Giyanti untuk yang pertama kalinya. menurut dia, itus ini menjadi tempat untuk belajar kembali peristiwa sejarah. “Sejarah tidak boleh dilupakan supaya kita tahu asal usul dan bagaimana perjuangan para leluhur terdahulu. Menjadi tugas kita dan generasi berikut untuk merawatnya agar tidak kepatèn obor,” ungkapnya.

Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Parwa Budaya Keraton Jogja ini menambahkan, siap bersama-sama masyarakat setempat dan Pemkab Karangayar saling melengkapi guna mengembangkan situs Perjanjian Giyanti menjadi lebih indah lagi. Direncanakan dilengkapi berbagai literasi pendukung sebagai salah satu tujuan wisata sejarah.

Secara khusus saya mewakili keluarga keraton Jogja, Ketua Kadin DIJ itu mengucapkan terimakasih atas peran serta masyarakat yang selama ini telah turut menjaga kelestarian situs. “Kami berharap silaturahmi semacam ini tidak hanya terbatas seremonial semata melainkan juga dalam bentuk-bentuk lain demi kemajuan bersama,” ungkapnya yang juga membagikan cinderamata berupa Buku Ensiklopedia Keraton Jogja.

Sementara itu Bupati Karanganyar Drs. H. Yuliatmoni, MM menyambut baik ide pengembangan situs Perjanjian Giyanti sebagai wisata sejarah dengan mengusung falsafah mikul duwur mendem jero. Bupati mengingatkan masyarakat Karanganyar, khususnya warga desa Jantiharjo, untuk memposisikan situs Perjanjian Giyanti hanya sebagai tempat sinau sejarah. “Tidak perlu memwingit-wingitkan tempat ini, seolah-olah angker dan sebagainya, nanti orang malah jadi takut datang,” pintanya.

“Juga jangan ada anggapan sebagai tempat mencari pesugihan. Jika ingin kaya, bekerjalah dengan giat. Jika punya lahan, tanami dan rawat dengan baik supaya ada pendapatan. Apabila mau datang ke situs untuk menghunjukkan suatu permohonan, silahkan, tapi tetap hanya nyuwun kepada Tuhan,” tambahnya.

Sependapat dengan itu Ketua Yayasan Giyanti Yohanes Sigit Pranowo bersyukur semakin banyak pihak yang peduli terhadap pelestarian situs. Dengan demikian maka akan menghasilkan sinergi yang produktif. Pihaknya bersama masyarakat sekitar sejauh ini terus berupaya mencari terobosan dan menjalin silaturahmi dengan berbagai kalangan yang menaruh kepedulian sama.

Terpisah sejarawan Universitas Gadjah Mada Dr. Sri Margono berharap semua pemangku kebijakan dapat menaruh perhatian lebih terhadap pelestarian situs Perjanjian Giyanti. Dia mengingatkan, situs sepenting Giyanti perlu mendapatkan perhatian karena bagaimanapun juga merupakan titik awal kemunculan Keraton Jogja yang diperjuangkan oleh Pangeran Mangkubumi. “Perlu dipikirkan kemungkinan lokasi situs dikembangkan menjadi museum edukasi sejarah dilengkapi literasi yang memadai,” harapnya

Seperti diketahui, Perjanjian Giyanti adalah kesepakatan antara Pangeran Mangkubumi dengan Gubernur VOC Nicholaas Hartingh dan Paku Buwono III pada 13 Februari 1755 silam. Perjanjian ini membagi wilayah kerajaan Mataram saat itu, menjadi dua, Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat. (pra)

Jawa Tengah