RADAR JOGJA- Unggas-unggas milik warga di Desa Kajoran, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah mati mendadak dalam kurun waktu dua pekan belakangan ini.  Jumlah unggas yang mati tercatat nyaris 200 ekor.

Suprapti,65, peternak warga Dusun Gadung Mlati, Desa Kajoran, Klaten wetan  menuturkan, “Punya saya ayam kampung dan mentok yang mati sekitar 140 ekor. Mentok itu mati dalam dua hari 28 ekor.

kematian unggas-unggasnya itu terjadi sejak sekitar dua pekan lalu. Usia unggasnya yang mati juga beragam.

“Ada yang ayam masih kecil usia dua bulan, ada juga yang sudah dewasa. Yang betina dewasa (mati) 25 ekor dan yang jantan dewasa 15 ekor dan lainnya ayam muda dan semua dikubur,” jelasnya Jumat (19/3).

Suprapti menambahkan, ayam yang mati, tidak menunjukkan gejala sakit sebelumnya. Namun paginya ditemukan mati dengan ciri jengger merah.

“Yang mati jenggernya merah dan ada yang ngorok. Yang ayam dewasa dari mulutnya keluar darah seperti muntah darah di tanah,”katanya.

Menurut Suprapti, kematian unggasnya yang terakhir terjadi tiga hari lalu. Saat ini beberapa ekor ayamnya masih dikarantina agar tidak tertular.

“Masih ada beberapa yang hidup saya kandangkan daripada ketularan mati. Kandang sudah kami semprot agar bersih,”ujarnya.

Warga lain, Suyatmi, dari Dusun Demangan, Desa Kajoran mengatakan, ada sekitar 30 ekor ayam miliknya yang mati. Sebagian sempat disembelih dan sebagian telah dikubur.

“Sekitar 30-an (ayam mati) ada kemarin. Ada yang sempat disembelih saat masih hidup dan yang mati mendadak dengan tanda ayam tidak bisa jalan lalu mati,”katanya.

Sementara itu beberapa warga dusun Ngasem kecamatan Bayat juga mengalami hal yang sama.

Parsinah salah seorang warga Ngasem kecamatan Bayat yang juga memelihara ayam juga menceritakan hal serupa. Sebanyak 15 ayam miliknya mendadak mati sepekan lalu.

“Matinya mendadak, tidak ada tanda sebelumnya. Tahu-tahu kelabakan lalu mati,” kata Parsinah.

Menurut ibu parsinah, saat ini ayam dewasa miliknya sudah habis dan tersisa hanya anak-anak ayam.

“Yang dewasa sudah habis padahal harganya ada yang di atas Rp 50.000. Ini sisanya anakan tanpa induknya sebab induknya mati,” jelasnya

Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Pemkab Klaten,  Awik Purwanti, mengatakan sudah mendapatkan laporan kejadian itu. Namun dia belum bisa dipastikan penyebabnya.

“Belum bisa dipastikan penyebabnya. Kalau hanya satu yang kepalanya merah atau keluar darah belum bisa dipastikan penyebabnya, harus kita cek lapangan,” jelasnya.

Jawa Tengah