RADAR JOGJA- Bendungan Tegalduren di Desa Ganggeng, Kecamatan/Kabupaten Purworejo menjadi tumpuan pengairan sawah bagi 5 desa. Baru setahun terakhir, air dari bedungan itu bisa dimanfaatkan oleh warga.Sebelumnya, warga tidak bisa memanfaatkan air dari bendungan tersebut karena rusak. Tercatat hampir selama 6 tahun, air tidak bisa dinaikkan ke saluran yang sudah terbangun. Rencananya bendungan itu akan kembali di bangun dalam tahun 2021 menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) murni.

“Tahun kemarin, sawah ini bisa panen. Sebelumnya ya tidak bisa. Bisa tanam, sudah keluar biaya untuk pengolahan tapi tidak bisa panen karena kekurangan air,” kata Ponirah, warga Desa Pacekelan, Purworejo, minggu (29/11).

Ponirah menambahkan, lahannya  hanya bisa digunakan untuk tegalan dengan aneka tanaman. Sebenarnya, bisa mendapatkan pasokan air dari Bendung Plipir, tapi peruntukannya tidak ke tempatnya, sehingga tidak mendapatkan pasokan.

“Sebenarnya bisa yang air dari bendungan Plipir, tapi karena memang tidak dapat jatah dari sana ya tidak boleh dialirkan kesini,”tambahnya.

Warga yang lain, Suratman mengungkapkan jika keberadaan Bendung Tegalduren memang vital bagi warga yang menggantungkan air dari tempat tersebut. Berada di Desa Pacekelan, namun air yang dialirkan meliputi beberapa desa.

“Kalau saya masih bisa nanam padi, wong dapat air dari Plipir. Tapi memang kasihan untuk warga yang lain, karena tidak dapat air,” ujar Suratman.

Menurutnya, bendungan Tegalduren memang sudah lama keberadaannya. Namun proses pembangunan bendungan belum maksimal. Belakangan setelah kepala desa Ganggeng digantikan oleh Bambang Endrokilo, air bisa kembali digunakan.

“Pak Lurah Ganggeng membangun bendungan pakai bronjong besi. Dan alhamdulilah air bisa sampai ke saluran,” kata Suratman.

Era kepemimpinan lurah terdahulu, sebenarnya telah diupayakan, namun hanya seumur jagung. Upaya pembangunan bendungan gagal dan tidak dilanjutkan lagi.

“Memang saya tidak menjadi warga Ganggeng, tapi sangat merasakan adanya aliran air dari Bendungan Tegalduren ini,” jelas Suratman.

Suratman mengaku senang bendungan itu akan dibangun secara permanen. Hal itu akan memberikan kepastikan mengenai pemenuhan kebutuhan air bagi persawahan warga.

Kepala Desa Ganggeng, Bambang Endrokilo menyebut jika pengadaan bendungan memang menjadi prioritasnya. Dia mendapatkan banyak masukan dari warga untuk membangun bendungan tersebut.

“Total lahan yang menggunakan air dari Tegalduren seluas 100 hektar. Air ini mengalir ke beberapa desa seperti Ganggeng sendiri, Brenggong, Cangkrep Kidul, Semawung dan sebagian Brenggong,” jelas Bambang.

Bambang menambahkan, Pembangunan bendungan sendiri sebenarnya sudah dilakukan di era pemerintahan Kades Sokeh yang menjalankan tugas di periode 2007-2013. Namun karena bangunanya masih sederhana, tidak kuat menahan gempuran banjir besar yang pernah terjadi.

“Satu komitmen saya untuk menjadi kepala desa adalah melakukan pembangunan bendungan ini. Dan alhamdulilah atas dukungan semua warga, bisa kembali digunakan lagi,”tambahnya.

Hanya saja, dirinya merasa perlu agar bendungan itu dibangun secara permanen. Melihat kondisi sungai yang ada, jika hanya memanfaatkan bronjong bisa terbawa air lagi.

“Saya memang mengkomunikasikan hal ini dengan DPRD dan Pemkab. Alhamdulillah mendapat respon baik dan tahun depan akan dibangun senilai sekitar Rp 7 miliaran,” jelas Bambang. (udi/sky)

Jawa Tengah