RADAR JOGJA- Beratnya persyaratan menjadikan sebauh desa maju dalam ajang penghargaan Proklim, tidak membuat patah semangat bagi Dinas Lingkungan Hidup (Din LH) Purworejo. Mereka membuat kemasan kegiatan baru dengan tetap mengacu beberapa indikator dalam penilaian Proklim.

“Kita namakan program ini dengan penghargaan Kampung Cantik. Banyak syarat yang kita sederhanakan agar masyarakat lebih mudah untuk mengikuti dan memenuhinya,” kata Kasi Penataan Lingkungan Din LH, Nenny Isnugrahaeny Prasetyowati, kamis (26/11).

Nenny menambahkan Selama pandemi Covid-19, masyarakat yang diharuskan dirumah ternyata membuat kreasi mereka berjalan. Mereka banyak memanfaatkan ruang terbuka yang belum dibuka menjadi tempat yang menarik.

Disisi lain, ada kegiatan yang mengajak masyarakat untuk menanam aneka sayuran di lingkugan tempat tinggal mereka. Tidak berhenti disitu, ngetrennya tanaman bunga membuat masyarakat juga mengarahkan kegiatan untuk menanamnya.

“Inti dari penilaian kampung cantik adalah melihat aktivitas masyarakat untuk mengelola sampah rumah tangganya. Ini untuk meminimalkan sampah keluar rumah itu sudah terpilah. Selain itu juga ada nilai tambah dari sampah yang dihasilkan,”tambahnya.

Didekatkan dengan konsep Proklim, ada beberapa aspek yang dinilai dalam program tersebut seperti adanya drainase, sumur resapan, biopori, dan lainnya. Masyarakat diajak untuk tidak sekedar mengawal saat ada proses penilaian, namun juga akan terus dilakukan walaupun penilaian sudah usai.

“Makanya dalam penilaian kita lakukan dua kali yang kami sebut P1 dan P2. P1 bolehlah kedatangan kita diberitahukan, tapi untuk P2 kita datang tanpa pemberitahuan khususnya untuk penilaian yang masuk 4 besar,” jelas Nenny.

Kepala Bidang Penaatan dan Penataan DinLH, Muda Kanui mengatakan kampung cantik yang dilakukan penilaian memiliki nilai lebih di Kabupaten Purworejo. Masyarakat dengan antusias menyiapkan kawasannya menjadi bersih dan rapi.

“Tidak sedikit yang sudah seperti tempat wisata. Ini menjadi pematik bagi desa-desa yang lain untuk melakukan hal yang sama. Ada banyak kemanfaatan yang diperoleh seperti desa lebih rapi, kebutuhan sayuran terpenuhi, demikian juga ada tanaman obatnya,” kata Muda.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Purworejo, Al Bambang Setyawan mengungkapkan jika pihaknya berusaha melakukan kegiatan itu secara rutin setiap tahun. Selama penilaian, dia melihat jika warga memiliki harapan lain dari sekedar kampung cantik.

“Selama ini masyarakat sudah sadar mengenai kemanfaatan dari taman. Selain itu, tanaman ketahanan pangan ya sudah disiapkan. Maka ini kami kreasikan jadi semacam ada penghargaan bagi masyarakat. Dan tahun depan, tentunya akan kita gelar lagi. Untuk bisa mendapatkan desa-desa lain yang juga menarik,” kata Bambang.

Adapun hasil penilaian kampung cantik di tahun 2020, tercatat sebagai terbaik 1 adalah Perum Pepabri Desa Borokulon Kecamatan Banyuurip, 2 Desa Hulosobo, Kecamatan Kaligesing dan ketiga Desa Kemranggen, Kecamatan Bruno. (udi/sky)

Jawa Tengah