RADAR JOGJA- Guru-guru tidak tetap di sekolah jenjang sekolah dasar negeri di Kabupaten Purworejo sebagian besar masih lebih banyak dibandingkan guru negeri. Jika diperbandingkan kisarannya 60:40.

Tugas yang disandang mereka juga tidak ringan, selain memiliki beban di kelas karena menjadi wali kelas. Mereka juga merangkap menjadi operator. Tugasnya adalah mengerjakan bebagai hal yang berhubungan dengan informasi teknologi (IT).

Salah satu Guru Tidak Tetap (GTT) SDN Kaliboto Kecamatan Bener,Purworejo Widhi Nurhayati mengatakan, Kegiatan itu tidak menjadi masalah bagi para GTT, karena sejak awal mereka bergabung ke sekolah sudah siap dengan segala konsekuensi. Termasuk didalamnya dengan tingkat kesejahteraan yang akan diterima.”Terus terang kami senang dengan adanya kabar ada pengangkatan GTT menjadi P3K(Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) walaupun tetap harus mengikuti seleksi. Ini kabar bahagian bagi seluruh GTT dimanapun,” jelasnya.

Widi menambahkan  dibalik rasa gembira itu masih ada kegalauan. Karena aturan teknis mengenai hal tersebut belum diberikan secara jelas. Sehingga yang ada di lapangan, para GTT masih meraba-raba seperti apa proses seleksinya.

Lebih jauh dikatakan jika, ada persyaratan yang dinilai cukup berat dipenuhi para GTT yakni kepemilikan sertifikan pendidik. Dari 1.700an GTT SD, jumlah yang sudah memiliki masih kurang dari 100 orang.”GTT dari SD hingga SMP di Purworejo yang sudah punya sertifikat pendidik ada sekitar 107 orang,” imbuh Widi.

Selain itu, masih ada GTT yang belum memiliki NUPTK atau Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Namun itu sebagian kecil karena di tahun ini, adanya NUPTK itu sudah dibantu dari Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Purworejo.

Widi berharap saat ada seleksi nanti, GTT yang lokal daerah bisa diutamakan. Demikian halnya untuk pengadaan dari jalur umum juga diutamakan dari Purworejo, karena keberadaannya cukup banyak,” imbuh Widi.

Sementara itu, Kepala Bidang SMP Dindikpora Purworejo, Frikly Widhi Dewanto mengatakan untuk jenjang guru SMP Negeri di Kabupaten Purworejo saat ini ada 400an GTT. Sedangkan kebutuhan guru mapel di tingkat SMP mencapai 500an orang.”Ini sudah termasuk guru agama,” kata Widhi Dewanto.

Seperti halnya GTT, pihaknya saat ini masih menunggu adanya juklak juknis pengadaan guru melalui jalur P3K. Pihaknya sendiri sebenarnya sudah memetakan kebutuhan tenaga pengajar di jenjang SMP.

“Angka secara pasti harus membuka data ya, tapi intinya pemetaan kita membutuhkan guru mapel apa saja itu sudah ada,” jelas Widhi.

Dijelaskan, GTT sendiri saat ini memang ada yang tidak mengajar sesuai dengan ijazah yang mereka miliki. Hanya saja, mereka tetap diarahkan bisa sesuai dengan kebutuhan sekolah.

“Katakan mengajar ya tidak jauh banget dari ijzah yang dimiliki. Seperti GTT IPA, tapi karena guru PNS IPA ada ya mengajar di mapel yang relevan seperti matematika. Demikian juga yang lain,” tambahnya.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII Jawa Tengah Nikmah Nurbaity juga mengatakan di tingkat SMA/SMK masih membutuhkan pengangkatan tenaga guru. Selama ini GTT mendapat alokasi kesejahteraan dari provinsi. Walaupun masih ada GTT yang dibiayai sekolah.

“Kenapa sekolah membiayai, ya karena sekolah membutuhkan dan belum dialokasikan di tingkat provinsi,” kata Nikmah.

Selain itu, saban tahun ada guru PNS yang memasuki purna tugas. Dan untuk menutup kebutuhan tersebut diisi oleh guru-guru tidak tetap.

“Masalahnya sekarang, banyak diantara GTT itu yang belum punya NUPTK, selain itu juga ada yang belum mengantongi sertifikat pendidik ataupun mengikuti pelatihan-pelatihan. Kita masih menunggu aturan yang lebih jelas,” imbuh Nikmah Nurbaity. (udi/sky)

Jawa Tengah