RADAR JOGJA – Los daging yang sebenarnya digunakan untuk pedagang daging ayam atau sapi tidak dimanfaatkan di Pasar Pituruh, Kecamatan Pituruh, Purworejo. Bangunan ini hanya digunakan untuk gudang para pedagang.

Posisi bangunan ini ada di bagian selatan atau belakang pasar. Ada dua pintu di sisi barat dan timur. Lurus dengan pertemuan dua pintu ada lorong yang seharusnya digunakan untuk lalulalang pembeli. Posisi pedagang ada di pinggir menghimpit ke tembok.

Bukannya ditempati oleh para pedagang ikan dan daging, namun tempat itu malah ditempatkan aneka barang milik pedagang. Mulai dari kerajang barang sampai tempat lapak tempat berjualan.

Dilihat dari fasilitasnya relatif lengkap. Ruangan itu tidak tertutup karena di bagian pinggir terdapat pagar kawat, ada pipa air serta dilengkapi dengan kipas angin.

“Sejak dibangun dulu, tempat itu belum pernah dipakai. Oleh pengelola, kami diperbolehkan untuk menggunakan sebagai tempat menyimpan barang,” ujar Ponisah, Minggu  (22/11).

Dia memanfaatkan bangunan itu untuk menyimpan nangka muda dagangannya yang belum lagi. Beberapa jenis dagangan lain yang tidak busuk juga ditempatkan di tempat itu.

“Dari pada kosong, memang bangunan ini bisa untuk nyimpan-nyimpan. Wong tidak mbayar, sudah masuk dalam karcis,” kata Ponisah.

Pedagang daging sapi, ibu Sutrisno mengatakan jika dirinya memang tidak mau menempati bangunan tersebut. Dia melihat bangunan yang ada tidak sehat. Alasannya tidak cukup ventilasi atau lubang angin.

“Bangunan seperti itu tidak sehat. Anginnya kurang dan daging itu kan banyak bakteri. Menguap dan mengenai tubuh kita,” kata Sutrisno.

Seluruh pedagang daging ataupun ikan di tempat tersebut memang tidak mau. Sehingga sejak awal memang belum pernah digunakan. Mereka memilih berjualan di tempat semula sebelum didirikan los daging itu.

“Bangunan itu dulu untuk jualan para pedagang ikan. Setelah jadi, kita dan juga pedagang ikan diarahkan kesitu. Tapi tidak ada yang mau,” imbuh Sutrisno.

Dia berharap,dari pada tidak terpakai, bangunan itu malah diubah menjadi tempat ibadah. Pengelola tinggal menutup bagian barat sehingga bisa digunakan untuk tempat imam.

“Kita itu memilih berjualan di tempat terbuka seperti ini, bisa lebih bebas. Kalau didalam kan sesak juga, jadi pembeli harus berdesak-desakan. Kalau tidak boleh untuk mushola, sebaiknya dibongkar saja dikembalikan seperti semula,” tambahnya.

Pengelola Pasar Pituruh Yatino mengungkapkan jika bangunan los daging sudah ada beberapa waktu. Hingga saat ini memang belum digunakan seperti layaknya. Padahal proses pembangunannya sudah mengalami dua kali penataan.

“Bangunan awal itu tertutup dan ditolak pedagang kemudian diubah dan ditambah dengan ventilasi, tapi tetap belum mau masuk,” kata Yatino.

Langkah terakhir yang ditempuh adalah memasang kipas angin. Harapannya sirkulasi udara akan bisa berjalan dengan baik. Namun langkah itu ternyata juga tidak mampu menarik pedagang untuk memanfaatkan.

“Jadinya ya seperti sekarang ini. Tidak digunakan para pedagang daging dan ikan,” jelas Yatino. (udi/sky)

Jawa Tengah