RADAR JOGJA – Sedikitnya 30 siswa Sekolah Dasar Islam (SDI) Muhammad Yunus (MY) Habiebie Desa Kroyolor, Kecamatan Kemiri Purworejo, mengikuti kegiatan outbond, Sabtu (31/10). Menerapkan protokol kesehatan ketat, mereka diajak untuk lebih mengenal lingkungan sekolah.

SDI MY Habibie memang relatif baru di dunia pendidikan Kabupaten Purworejo. Sekolah ini baru memberikan pendidikan bagi siswa kelas 1 dan 2 saja. Lokasinya juga relatif jauh dari pinggir jalan utama.

“Kami memang sengaja memilih lokasi yang relatif jauh dari jalan raya. Kenapa, karena kami ingin peserta didik kami itu aman, untuk belajar juga adem dan tidak banyak hiruk pikuk,” kata Ketua Yayasan MY Habiebie, Muji Hartono.

Dijelaskan jika konsep pendidikan memang bernafaskan Islam. Dimana saban pagi anak diberikan hafalan asmaul husna serta hafalan quran. Ini selaras dengan harapan sekolah dimana saat anak sudah lulus dari sekolah sudah memiliki hafalan Quran walaupun beberapa juz.

“Kami ingin mewarnai dunia pendidikan Islami di sisi barat Purworejo ini,” imbuh Muji.

Kepala SDI MY Habiebie, Anteng Arsiyati sendiri mengatakan jika sudah beberapa waktu anak memang belajar di rumah. Ini sesuai dengan himbauan pemerintah agar kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring.

“Selama ini kita memang melakukan pendidikan dengan sistem daring. Namun hari ini, akan kita pertemukan kembali untuk mengikuti outbond ini. Harapannya agar mereka semakin akrab dengan teman ataupun adik kelasnya,” jelas Anteng.

Sebelum ada pandemi, konsep pembelajarann yang diberikan juga tidak sekedar di dalam kelas. Anak kerap diajak mengikuti pendidikan luar kelas. Hal ini amat penting, untuk memberikan pengayaan pengetahuan dan pengalaman bagi anak.

“Dan outbond yang digelar ini untuk lebih memperkuat karakter anak dimana mereka akan lebih mudah bergaul dengan masyarakat,” imbuh Anteng.

Arum Wahyu sebagai pihak pendamping outbond mengatakan jika ada beberapa permainan yang diberikan kepada siswa. Game-game itu lebih banyak diarahkan yang mengajak mereka untuk saling bekerjasama.

“Jadi konsepnya adalah mengedepankan silaturahmi antara siswa. Dan siswa dengan sekolah,” kata Arum.

Menurut Arum, anak-anak selama ini sudah bosan harus selalu berada di rumah. Dan permainan yang mengarah kepada kebersamaan akan membuat mereka saling berinteraksi dengan temannya.

“Kita memilih konsep yang ada di sekolah saja. Selain ini hemat, juga menyesuaikan karena adanya pandemi ini,” jelas Arum. (udi/ila)

Jawa Tengah