RADAR JOGJA – Aparatur sipil negara (ASN) di Provinsi Jawa Tengah wajib mengenakan baju lurik setiap Selasa. Kewajiban ini memberikan dampak terhadap bangkitnya semangat pelaku usaha lurik di Klaten. Khususnya usaha kecil dan menengah (UKM).

Mereka berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi.
Di tengah semangat yang tinggi itu muncul kendala. Di antaranya, mesin tenun yang dimiliki masih sangat sederhana sehingga perlu inovasi teknologi tepat guna. Ketiadaan produk turunan lurik, membuat UKM kehilangan kesempatan mendapatkan keuntungan berlipat. Ditambah pengelolaan keuangan relatif sangat sederhana. Mereka tidak mengetahui keuntungan atau kerugian usaha secara pasti.

Melihat kenyataan itu mendorong empat perguruan tinggi swasta (PTS) di DIY bergerak membantu memajukan usaha para perajin lurik di Klaten tersebut. Bentuknya melalui program pengabdian masyarakat. Adapun empat PTS tersebut adalah STMIK AKAKOM, STT Adisutjipto, AKS AKK, dan STIE IEU Jogjakarta.

Empat PTS tersebut bermitra dengan UKM lurik Sumber Rejeki Tex yang berlokasi di Dukuh Cabean, Mlese, Cawas, Klaten. “Kami dampingi mitra dalam empat hal sesuai dengan keahlian tim kami,” ujar Ketua Tim Pengabdi Edy Prayitno kemarin (13/8). Adapun empat bidang pendampingan itu meliputi teknik industri, tata busana, manajemen dan teknologi informasi.

“Setelah program ini selesai, mitra dapat secara mandiri menjalankan usaha dengan lebih baik secara berkesinambungan,” tambah Edy didampingi anggota tim yang terdiri atas Uyuunul Mauidzoh, Wahyu Eka Priana, dan Nerys Lourensius.
Pengabdian itu dilakukan melalui Program Pemberdayaan Produk Unggulan Daerah (PPPUD) yang didanai Kemenristek/Brin. Empat dosen itu juga mendampingi terkait proses produksi, peningkatan kualitas dan kuantitas produk serta memperbaiki manajemen usaha. Di samping itu juga memperluas jaringan pemasaran.

Beberapa kegiatan dilakukan tim pengabdi. Di antaranya, penataan ulang ruang produksi, penambahan kapasitas mesin produksi dengan memberikan mesin dinamo, pelatihan menjahit produk turunan lurik ke beberapa karyawan dan perbaikan pencatatan keuangan usaha. Juga pembuatan website dan toko online Sumber Rejeki Tex.
Selama mengadaka pendampingan, Edy melihat antusiasme mitra dalam mendukung kegiatan pengabdian masyarakat multi tahun tersebut. Dia optimitis, ke depan Sumber Rejekitex dapat lebih maju.

“Tidak hanya tingkat lokal, namun hingga ke pasar global,” tambahnya.

Yusuf, pemilik usaha lurik ATBM Sumber Rejeki Tex mengapresiasi pengabdian masyarakat yang melibatkan empat dosen tersebut. “Kami ucapkan terima kasih kepada tim pengabdian masyarakat dari Jogja yang sudah membantu usaha kami,” ucapnya.

Dia merasa mendapatkan banyak bantuan. Baik ilmu pengetahuan, mesin dan lainnya. “Semoga kegiatan ini bisa berlanjut sampai tuntas tiga tahun,” harap Yusuf. (kus/ila)

Jawa Tengah