MUNGKID – Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), selama periode 2011-2017 rata-rata pertumbuhan ekonomi Kabupaten Magelang lebih tinggi dibandingkan Provinsi Jawa Tengah. Bahkan menurut Kepala BPS Kabupaten Magelang Sri Wiyadi, pertumbuhannya melebihi rata-rata nasional. Hal itu terungkap dalam ekspos data strategis dalam rangka Hari Statistik Nasional (HSN) 2018 di Gedung BPS setempat, kemarin.

“Rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,39 persen, Jawa Tengah 5,29 persen, sementara Kabupaten Magelang 5,49 persen,” kata Sri Wiyadi.

Dikatakan, sisi inflasi tahunan Kabupaten Magelang selama kurun waktu 2014-2018 cukup terkendali karena berada pada kisaran di bawah 4 persen. Namun sempat mengalami peningkatan pada 2014 karena adanya penghentian subsidi bahan bakar minyak (BBM). Pada periode Januari-Agustus 2018, inflasi Kabupaten Magelang hanya sebesar 1,65 persen.

“Kalau kita coba melihat angka itu, kita nggak begitu khawatir tentang berita bombastis dolar naik, rupiah jatuh, kemudian susah beli barang. Justru tidak, harga kebutuhan pokok pun tidak mengalami kenaikan, malah penurunan. Kalau suatu negara nggak pernah mengalami inflasi, justru kurang menarik untuk (lokasi) berinvestasi,” tuturnya.

Persentase kemiskinan di wilayah Kabupaten Magelang pada 2017 sebesar 12,42 persen. Angka ini lebih rendah dibanding kabupaten lain di Jawa Tengah. Berbeda dengan di perkotaan yang lebih rendah angka kemiskinannya.

“Target di 2017 angka kemiskinan hanya 9 koma sekian persen. Namun garis kemiskinan Magelang masih sangat rendah dibanding Jawa Tengah. Jumlah penduduk miskin di kabupaten ini dari 2011 cenderung turun persentasenya,” jelasnya.

Sedangkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kabupaten Magelang hanya 2,44 persen, termasuk rendah dibandingkan kota dan kabupaten lain se-Jawa Tengah, dengan angka tertinggi di Kota Tegal yakni 8,19 persen. Sebagian besar orang di Kabupaten Magelang bekerja di sektor pertanian 34,52 persen, industri pengolahan 18,12 persen, perdagangan besar, eceran, rumah makan dan hotel 21,34 persen. Lalu jasa kemasyarakatan 12,90 persen dan lainnya 13,12 persen,” ungkap Sri.

“Beberapa lapangan usaha pun tumbuh di atas angka 7 persen, dengan didominasi bidang informasi dan komunikasi. Namun demikian, pertanianlah yang berkontribusi terbesar pada struktur ekonomi, padahal hanya memberikan andil pertumbuhan paling sedikit,” ujarnya.

Pada 2017, Indeks Pertumbuhan Manusia (IPM) Kabupaten Magelang tumbuh 0,80 persen, lebih tinggi dari Jawa Tengah 0,77 persen, tetapi lebih rendah dari nasional 0,90 persen. Rata-rata pertumbuhannya tiap tahun mencapai 1,12 persen melampaui Jawa Tengah 0,93 persen dan nasional 0,89 persen.

“Data statistik merupakan salah satu faktor utama dalam penyusunan dan penentu arah kebijakan. Data yang berkualitas dapat dijadikan ukuran kriteria keberhasilan kinerja pembangunan. Arah kebijakan adalah terwujudnya Kabupaten Magelang yang semakin Semanah atau Sejahtera, Maju dan Amanah,” tandasnya. (dem/laz)

Jawa Tengah