Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Genjot Produksi Ubi Kayu

Editor Content • Senin, 24 Agustus 2020 | 18:38 WIB
MENINGKAT – Kepala DPP Kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto secara simbolis panen raya ubi kayu dengan petani di Kapanewon Semanu akhir pekan lalu. ( GUNWAN/RADAR JOGJA )
MENINGKAT – Kepala DPP Kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto secara simbolis panen raya ubi kayu dengan petani di Kapanewon Semanu akhir pekan lalu. ( GUNWAN/RADAR JOGJA )
RADAR JOGJA – Hasil panen ubi kayu di Kabupaten Gunungkidul selama tiga tahun berturut-turut mengalami penurunan. Puncaknya di 2019, produksi ubi kayu rendah karena musim kemarau berkepanjangan.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul, Raharjo Yuwono tidak menampik hasil panen dalam rentang waktu 2017-2018-2019 terus menurun. Rinciannya, 2017, luas lahan 49.487 hektar, provitas 186,87 kubik per hektar, dengan produksi 924.750,88.

Memasuki 2018 luas panen juga menurun jadi 45.472 hektar, provitas 174,82 kubik per hektar dan produksi 794.953,91 ton. Di 2019 luas panen 45.816, provitas 156,02 dengan hasil produksi 714.825,96 ton.
“2019 produksi ubi kayu rendah karena kekeringan yang panjang hampir 7 bulan lebih,” kata Raharja Yuwono saat dihubungi Minggu (23/8).

Sementara itu, Kepala DPP Kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto berkeyakinan, produktivitas ubi kayu petani secara umum masih bisa ditingkatkan. Salah satunya dengan teknologi seperti pemupukan secara individu terhadap ubi kayu. “Karena selama ini petani masih menggunakan pemupukan ubi kayu bersama tanaman tumpangsari lainnya seperti padi atau jagung, yang kedua teknologi pembumbunan/ngrimpu agar umbi lebih bisa berkembang,” kata Bambang.

Menurut dia, hasil panen ubi kayu harus terus digenjot. Hal ini sesuai dengan simbol daerah Kabupaten Gunungkidul terdapat lambang tanaman ubi kayu. Dalam simbol itu dijelaskan bahwa sebagian besar lahan kabupaten berjuluk Handayani tersebut memproduksi ubi kayu. “Pada 2020 menunjukkan produksi ubi kayu di Gunungkidul melimpah,” ujarnya.

Pihaknya mengambil contoh hasil panen ubi kayu di Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Rejeki Jetis, Karangmojo, Karangmojo. Hasil ubinan panen ubi kayu menunjukkan hasil 16,3 kg per ubin atau setara 26,2 ton per hektar. Luas lahan di Jetis meliputi sawah tadah hujan 6 hektar dan lahan kering 30 hektar dengan pola tanam padi palawija di lahan sawah, dan padi-palawija-palawija di lahan kering. “Kami optimistis dengan luas panen sekitar 456.816 hektar akan dicapai produksi ubi kayu Gunungkidul menyentuh 900.000 ton ubi kayu basah,” ucapnya.

Bahkan mungkin bisa mencapai 1 juta ton seperti di tahun 2016. Dengan harga di pasaran mencapai Rp 1.000 per kg umbi basah maka sumbangan produksi ubi kayu pada PDRB Gunungkidul sangat berarti. (gun)

  Editor : Editor Content
#Gunungkidul #Produksi Ubi Kayu