GUNUNGKIDUL – Jumlah penumpang di Terminal Dhaksinarga Selang, Wonosari naik hingga 5 persen selama arus mudik Lebaran 2026.
Namun, peningkatan ini tidak berdampak pada perputaran ekonomi, karena pedagang justru mengeluhkan sepinya pembeli dan anjloknya omzet.
“Secara umum mudik tahun ini lebih ramai. Rata-rata ada kenaikan penumpang harian sekitar 2 sampai 5 persen,” kata Koordinator Satuan Terminal Induk Tipe A Dhaksinarga Aris Farwanto saat ditemui di Terminal Dhaksinarga, Kamis (26/3/2026).
Dia menjelaskan, peningkatan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya program mudik gratis dari pemerintah serta durasi libur yang lebih panjang karena berdekatan dengan Hari Raya Nyepi.
Selain itu, kondisi cuaca yang relatif lebih baik dibanding tahun lalu juga ikut mendukung kelancaran arus mudik.
“Kalau tahun lalu sempat terkendala banjir, tahun ini relatif lancar. Itu juga berpengaruh terhadap peningkatan jumlah penumpang,” ujarnya.
Kendati terjadi peningkatan, jumlah penumpang tersebut tidak berbanding lurus dengan perputaran ekonomi di dalam terminal.
Sejumlah pedagang justru merasakan penurunan omzet yang cukup drastis.
Salah satu pedagang kios Sumiyati, 56, mengaku pendapatannya selama periode arus mudik dan balik pada rentang 13 hingga 24 Maret 2026 sangat minim.
Bahkan, dalam sehari ia hanya mampu meraup Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu, itu pun masih kotor.
“Kadang sehari cuma dapat Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu. Itu belum dipotong modal. Buat makan saja sudah tidak cukup,” keluhnya saat ditemui di kiosnya.
Ia bahkan pernah mengalami hari paling sepi, di mana hanya menjual satu gelas kopi seharga Rp 5.000 dari pagi hingga sore.
“Pernah dari pagi sampai sore cuma laku satu gelas kopi. Benar-benar sepi, padahal sedang ada arus mudik,” keluhnya.
Sumiyati membandingkan kondisi saat ini dengan suasana terminal lama di kawasan Besole, Wonosari, yang diklaim jauh lebih ramai, terutama saat musim Lebaran.
“Dulu waktu masih di terminal lama itu ramai, busnya banyak, pembeli juga ramai. Kalau sekarang jauh beda, apalagi Lebaran, harusnya ramai tapi malah sepi,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi serupa juga terjadi pada tahun sebelumnya, namun pada tahun ini dirasakan lebih parah. Para pedagang bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan harian, apalagi berharap mendapatkan tambahan penghasilan saat Lebaran.
“Jangankan cari THR, untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah pusing,” tandasnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita