Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hujan Berhari-hari Picu Tanah Perbukitan Jenuh Air, Sebabkan Tancep Dilanda Banjir Bandang

Yusuf Bastiar • Rabu, 18 Februari 2026 | 21:16 WIB

 

Warga bersama relawan bahu membahu membersihkan material longsor berupa batuan, lumpur dan pohon yang menerjang 12 rumah di Padukuhan Jono Kalurahan Tancep Kapanewon Ngawen.
Warga bersama relawan bahu membahu membersihkan material longsor berupa batuan, lumpur dan pohon yang menerjang 12 rumah di Padukuhan Jono Kalurahan Tancep Kapanewon Ngawen.
 
GUNUNGKIDUL - Hujan deras yang mengguyur wilayah Ngawen dalam beberapa hari terakhir berujung bencana.
 
Tanah perbukitan di atas Padukuhan Jono, Kalurahan Tancep, mengalami kejenuhan air hingga memicu longsor dan banjir bandang pada Selasa sore (17/2/2026).
 
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono menjelaskan, sebelum kejadian wilayah tersebut diguyur hujan secara terus-menerus. Kondisi itu membuat struktur tanah di perbukitan menjadi labil.
 
Baca Juga: KDMP Tirtomulyo Manfaatkan SLB Mardi Mulyo, Pihak Sekolah Sempat Menolak karena Izin dan Ganggu Aktivitas Siswa
 
“Beberapa hari sebelumnya hujan turun terus. Tanah di bukit menjadi jenuh karena diguyur berhari-hari. Saat Selasa hujan deras dengan intensitas cukup lama, tanah tidak lagi mampu menampung air sehingga terjadi longsor,” ujarnya saat ditemui di Kalurahan Tancep, Rabu (18/2/2026).
 
Menurut dia, material longsoran didominasi lumpur bercampur bebatuan. Curah hujan tinggi memperparah kondisi hingga aliran air bercampur material longsor meluncur ke permukiman warga dan memicu banjir cukup besar.
 
“Tanaman di atas relatif rapat, tetapi jenis tanahnya memang mudah jenuh air. Itu yang membuat longsoran cepat terjadi,” katanya.
 
Baca Juga: UMY Kembali Bagikan 4 Ribu Takjil selama Bulan Puasa lewat Sistem Drive Thru, Mahasiswa Sebut Terbantu karena Bisa Menekan Pengeluaran
 
Berdasarkan pendataan BPBD, total terdapat 12 rumah dan satu masjid mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor.
 
Lima rumah di antaranya dilaporkan rusak parah. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
 
BPBD bersama pemerintah kalurahan telah menyiapkan selter pengungsian. Namun sebagian besar warga memilih mengungsi ke rumah kerabat yang dinilai lebih aman.
 
Wilayah Tancep selama ini masuk dalam pemantauan BPBD karena tingkat kerawanan longsornya yang tinggi.
 
Baca Juga: MAJT An-Nuur Kabupaten Magelang Siapkan Rangkaian Ibadah dan Kampung Ramadan, Sediakan Lebih dari 500 Paket Buka Puasa per Hari
 
“Untuk sementara kami imbau warga mengungsi. Kalurahan Tancep ini memang memiliki potensi longsor cukup tinggi karena berada di kawasan perbukitan. Bahkan pada 2011 pernah terjadi longsor yang menimbulkan korban jiwa,” tandas Purwono.
 
Pantauan Radar Jogja di lapangan, terlihat sejak 07.30 pagi ratusan warga bersama relawan bahu membahu membersihkan material longsoran.
 
Batu berukuran besar yang tergeletak di tengah jalan dipecah bertahap menggunakan martil.
 
Baca Juga: Prapaskah di Tengah Bulan Ramadan, Gereja Paroki HKTY Pugeran Usung Semangat Toleransi: Ajak Saling Tegur Sapa saat Berangkat Ibadah
 
Kemudian, warga berjejer saling bersambung membuang bongkahan bebatuan tersebut.
 
Tak hanya itu, dari titik terparah hingga radius seratus meter lebih warga disibukkan membersihkan lumpur yang menggenangi halaman rumah.
 
Tak berselang lama, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih meninjau langsung lokasi terdampak.
 
Peninjauan tersebut sekaligus sebagai langkah mitigasi risiko di kawasan rawan bencana.
 
Baca Juga: Hujan Deras Disertai Angin Kencang Sebabkan 80 Pohon Tumbang di 15 Kapanewon Kabupaten Bantul
 
Menurut Endah, relokasi menjadi solusi jangka panjang untuk menjamin keselamatan warga.
 
Pemkab Gunungkidul siap menyediakan lahan sekaligus membangun hunian baru bagi keluarga terdampak.
 
“Wilayah ini sudah dipantau dalam sepuluh tahun terakhir karena berpotensi longsor tinggi. Untuk keamanan, saya minta satu keluarga yang rumahnya berada di titik paling atas bersedia dipindah ke tempat yang lebih aman,” ujarnya.
 
Baca Juga: Uwak Berharap Magis MagIS, Minta Dukungan Suporter PSS di Laga Melawan Persipura
 
Ia mengaku telah berkoordinasi dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X terkait kemungkinan pemanfaatan lahan berstatus sultan ground (SG) sebagai lokasi relokasi.
 
Selain itu, tanah kas desa juga dapat digunakan bagi keluarga kurang mampu terdampak bencana melalui mekanisme pengajuan izin oleh pemerintah kalurahan kepada Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
 
“Bisa memanfaatkan tanah kas desa untuk keluarga kurang mampu terdampak bencana. Pemerintah kalurahan nanti mengajukan izin ke Keraton,” jelasnya.
 
Baca Juga: Tarawih Tak Bersamaan, Lebih dari 9.000 Masjid di DIY Sambut Ramadan
 
Meski demikian, Endah menyadari proses relokasi tidak mudah. Keluarga terdampak telah puluhan tahun menempati lokasi tersebut sehingga diperlukan pendekatan komunikasi dan edukasi agar bersedia pindah.
 
“Pasti berat meninggalkan tanah yang sudah puluhan tahun ditempati. Tapi ini berkaitan dengan keselamatan nyawa,” tegasnya.
 
Salah satu warga terdampak, Suratmi, mengaku rumahnya yang berada di titik paling atas mengalami kerusakan paling parah.
 
Ia tinggal bersama empat anggota keluarganya di rumah tersebut.
 
Baca Juga: Unik! Masjid Gedhe Mataram Kotagede Gelar Dua Sesi Salat Tarawih, Bakda Isya dan Dini Hari
 
“Rumah saya lokasinya paling atas dan paling parah. Saya masih bingung menanggapi tawaran relokasi dari pemerintah,” ujarnya.
 
Ia mengaku belum dapat mengambil keputusan terkait rencana perpindahan permanen.
 
Untuk sementara, dirinya bersama keluarga memilih mengungsi ke rumah saudara yang berada di lokasi lebih rendah dan tak jauh dari tempat tinggalnya.
 
“Belum kepikiran. Saya belum bisa mikir karena masih takut. Sekarang tinggal di rumah saudara di bawah,” ujarnya singkat. (bas)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
#tanah jenuh #hujan berhari hari #Gunungkidul #Ngawen #Kalurahan Tancep #banjir bandang