Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BPBD Petakan Titik Rawan, EWS Diprioritaskan di Pesisir, Sungai, dan Zona Longsor Gunungkidul

Yusuf Bastiar • Selasa, 3 Februari 2026 | 20:45 WIB

TITIK PENITNG: Pantai Sepanjang menjadi lolasi krusial untuk penempatan early warning system (EWS).
TITIK PENITNG: Pantai Sepanjang menjadi lolasi krusial untuk penempatan early warning system (EWS).
 

GUNUNGKIDUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul saat ini tengah melakukan pemetaan ulang terhadap keberadaan dan kondisi early warning system (EWS). Nantinya, EWS baru akan ditempatkan di wilayah rawan. Mulai kawasan pesisir selatan, daerah aliran sungai (DAS), hingga zona rawan longsor di utara.

Kepala BPBD Gunungkidul Purwono menjelaskan, salah satu titik krusial pemasangan EWS berada di kawasan pantai selatan, khususnya Pantai Sepanjang, Kapanewon Tanjungsari. Di lokasi tersebut, BPBD menetapkan standar keamanan ketat berbasis tinggi gelombang laut. Aktivasi sirine itu, lanjut Purwono, ditujukan untuk mengamankan golden time sekitar 30 menit, sehingga warga dan wisatawan memiliki cukup waktu menjauh dari bibir pantai menuju zona aman.

“Jika sensor mendeteksi tinggi gelombang mencapai lima meter, sirine peringatan dini wajib diaktifkan. Petugas SAR langsung menyalakan alarm,” jelasnya kepada wartawan Selasa (3/2).

Selain pesisir, sistem EWS juga dipasang untuk memantau pergerakan tanah dan aktivitas gempa. BPBD Gunungkidul bekerja sama dengan BMKG menempatkan sensor di sejumlah wilayah. Antara lain Panggang, Playen, Wonosari, hingga Gedangsari. Data getaran yang tertangkap sensor akan diolah secara digital sebelum disebarluaskan sebagai peringatan publik.

Fokus pemantauan berikutnya berada di sepanjang Sungai Oyo yang melintasi Semin, Ngawen, Nglipar, Karangmojo, Wonosari, Patuk, hingga Playen. Ketinggian muka air sungai dipantau secara real-time untuk mengantisipasi banjir dan luapan sungai.

“Jika ketinggian air menyentuh 2,9 meter, sistem otomatis mengirim status siaga ke ponsel petugas agar segera ditindaklanjuti,” ujar Purwono.

Sementara itu, pengamanan juga diperketat di zona utara yang rawan longsor. Seperti Kalurahan Watugajah dan Sampang di Kapanewon Gedangsari. Seluruh alat deteksi di wilayah tersebut terhubung langsung ke Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB).

“Beroperasi selama 24 jam sebagai pusat pengelolaan informasi, komunikasi, dan koordinasi penanggulangan bencana,” bebernya.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menyebut, berdasar hasil identifikasi, sebaran EWS gempa bumi di Gunungkidul masih terbatas. Saat ini, alat peringatan gempa baru terpasang di Panggang, Playen, Sampang, dan Gedangsari. EWS tersebut merupakan aset nasional yang dikelola BMKG.

“Kami ingin memastikan EWS berada di titik yang tepat dan benar-benar berfungsi saat kondisi darurat,” tegasnya.

 

Pemkab juga telah menjalin komunikasi dengan kalangan akademisi serta mengusulkan pemasangan EWS tsunami melalui Dikti. Mengingat wilayah pesisir Gunungkidul memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Namun, Endah mengakui, penambahan EWS tidak dapat dilakukan secara cepat dan masif. Harga satu unit EWS yang berkisar Rp 50 juta hingga Rp 70 juta membuat pemerintah daerah harus menyusun skala prioritas di tengah keterbatasan anggaran.

“Meski jumlahnya terbatas, EWS yang telah terpasang cukup efektif. Begitu alarm berbunyi, warga sekitar langsung mengetahui ada potensi bahaya dan bisa segera mengantisipasi,” kata Endah. (bas/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Pemerintah Kabupaten (Pemkab) #early warning system (EWS) #EWS #gunugkidul #daerah aliran sungai #Longsor #Wilayah Rawan #pesisir selatan