GUNUNGKIDUL – Hujan berintensitas sedang hingga lebat yang mengguyur wilayah selatan Gunungkidul sejak Jumat (16/1/2026) sore memicu longsoran batu raksasa di Padukuhan Bolang, Kalurahan Giripanggung, Kapanewon Tepus.
Batu berukuran sekitar 10 meter dengan tinggi 2,5 meter tersebut longsor dari tebing dan menimpa rumah serta bangunan penunjang milik warga pada Sabtu (17/1/2026) dini hari.
Personel BPBD Gunungkidul Wardoyo mengatakan, berdasarkan asesmen yang dilakukan, longsoran batu berasal dari tebing perbukitan dan menimpa sejumlah bangunan milik warga.
Di antaranya bak penampungan air, kandang ternak, serta dapur rumah. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun kerugian materiil ditaksir mencapai Rp25 juta.
Hujan berdurasi panjang sejak sepekan terakhir menjadi pemicu utama terjadinya longsor batuan tersebut.
“Curah hujan terjadi terus-menerus dari beberapa hari sebelumnya. Kondisi tanah dan batuan di tebing menjadi labil hingga akhirnya longsor,” ujarnya saat dikonfirmasi Sabtu (17/1/2026).
Batu longsor tersebut menimpa bak penampungan air berukuran sekitar 4×2 meter dengan kedalaman 2,5 meter milik Sugeng Haryanto, 57.
Akibat tertimpa batu, penampungan air yang masih aktif digunakan itu pecah dan tidak dapat difungsikan.
“Saat ini pemilik terpaksa mengambil air dari penampungan milik tetangga karena tidak memiliki cadangan lain dan belum terjangkau jaringan PDAM,” jelas Wardoyo.
Selain itu, kandang ternak milik warga dengan ukuran sekitar 3×4 meter mengalami kerusakan roboh total.
Dampak longsoran juga mengenai dapur rumah milik Suryani. Ia menyebut, dinding dapur sepanjang kurang lebih enam meter dengan tinggi tiga meter roboh, sementara bagian atap seluas sekitar 3×2 meter mengalami kerusakan.
“Struktur bangunan dapur sudah miring dan tidak bisa digunakan,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Edy Winarta mengatakan, telah melakukan asesmen awal dan pendataan dampak kerusakan di lokasi kejadian.
Menurutnya, kebutuhan mendesak yang diperlukan warga adalah logistik permakanan serta peralatan kerja bakti.
“Kami akan menyalurkan bantuan seperti angkong, pacul, dan linggis. Jika diperlukan alat berat juga akan kami upayakan,” paparnya.
Rencana tindak lanjut penanganan dilakukan melalui perbaikan secara mandiri oleh warga terdampak dengan dukungan kerja bakti masyarakat setempat.
Pelaksanaannya masih menunggu koordinasi lanjutan dari pihak kalurahan. Dia mengimbau warga yang tinggal di sekitar tebing dan lereng perbukitan agar meningkatkan kewaspadaan.
“Terutama saat hujan dengan durasi panjang, mengingat potensi longsor masih bisa terjadi,” imbaunya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita