GUNUNGKIDUL - Momen Natal dan Tahun Baru selalu membawa berkah tersendiri bagi para pedagang trompet.
Salah satunya Suradi (63) penjual trompet musiman yang mangkal di depan Pasar Argosari Kapanewon Wonosari, Gunungkidul.
Suradi mengaku telah menekuni usaha jual beli terompet sejak 1987.
Saat itu ia masih muda dan berkeliling ke berbagai kota besar untuk mengais rezeki.
“Dulu saya muter-muter, pernah jualan di Surabaya, Jakarta, Pekalongan, Temanggung, banyak pokoknya,” ujarnya saat ditemui pada Kamis, (25/12/2025).
Kini, di usia senja, Suradi memilih menetap dan berjualan di Gunungkidul.
Ia mengaku lebih dekat dengan keluarga.
Selain itu, ia juga mulai membuka lapak sejak menjelang Natal hingga malam pergantian tahun.
Meski berjualan hanya musiman, hasil yang diperoleh cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Apalagi seluruh trompet yang dijual dibuat sendiri.
“Alhamdulillah bisa buat makan. Soalnya ini saya buat sendiri dari bahan mentah,” tuturnya.
Baca Juga: Perayaan Tahun Baru di Kulon Progo Tanpa Pesta Kembang Api Tapi Event Sehat Kabanaran Fun Walk
Menjelang Natal, penjualan mulai terasa meningkat.
Dalam sehari, Suradi mengaku mampu menjual sekitar 20 trompet dengan omzet mencapai Rp 300 ribu.
Menariknya, Suradi yang beragama Islam tidak mempermasalahkan berjualan di momen hari raya Natal.
Ia menganggapnya sebagai bagian dari ikhtiar mencari rezeki.
“Saya muslim, tapi rezeki itu dari Allah. Saya turut merayakan dengan cara mencari nafkah,” tegasnya.
Suradi biasanya membawa sekitar 60 trompet berbagai model, mulai dari bentuk naga, boneka, hingga model klasik.
Harga pun bervariasi, dari Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu per buah.
Mayoritas pembeli berasal dari kalangan anak-anak.
Ia memprediksi puncak penjualan akan terjadi saat malam tahun baru.
Jika stok habis, Suradi pulang untuk kembali memproduksi trompet demi memenuhi permintaan keesokan harinya.
“Biasanya habis. Tahun baru itu paling ramai,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Heri Bowo, pedagang trompet yang berjualan di kawasan Alun-alun Wonosari.
Ia mengatakan, pada hari biasa berjualan mainan anak-anak.
Namun khusus menjelang akhir tahun, ia beralih menjual terompet.
Ia mengaku momen Natal dan Tahun Baru menjadi harapan bagi pedagang musiman sepertinya.
Sebab, lanjut dia, dirinya menggantungkan rezeki dari riuh suara trompet menyambut pergantian tahun.
“Saya mulai jualan trompet sejak 20 Desember sampai 1 Januari,” imbuhnya singkat. (bas)
Editor : Meitika Candra Lantiva