GUNUNGKIDUL - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul mendorong para peternak memperkuat ketersediaan hijauan pakan ternak memasuki musim hujan.
Ini dilakukan untuk memastikan ketersedian pakan tetap stabil sepanjang tahun, terutama untuk mengantisipasi kelangkaan ketika memasuki musim kemarau.
Kepala DPKH Gunungkidul Wibawanti Wulandari menjelaskan, produktivitas pakan hijauan ternak sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air.
Terlebih memasuki musim hujan, pertumbuhan hijauan sangat optimal karena ketersediaan air yang cukup.
“Jadi ini momentum penting bagi peternak untuk menanam rumput dan leguminosa sebagai cadangan pakan yang bisa dimanfaatkan pada musim kemarau nanti,” katanya saat dihubungi Rabu (12/11/2025).
Wibawanti menjelaskan, ketersediaan pakan hijauan dapat membantu peternak mengurangi ketergantungan pada pakan tambahan atau pakan pabrikan yang biayanya relatif tinggi.
Menurutnya, dengan menanam dan mengawetkan hijauan sejak musim hujan, peternak tidak hanya mampu menekan biaya operasional, tetapi juga menjaga keberlanjutan usaha ternak mereka sepanjang tahun.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, pihaknya telah melaksanakan bimbingan teknis penanaman hijauan pakan ternak.
“Kami sudah melakukan bimbingan ke kelompok ternak Sido Rukun Kalurahan Genjahan Ponjong akhir Oktober kemarin,” ujarnya.
Pengawas Mutu Pakan DPKH Wiwit Latif Harjanti menambahkan, hijauan pakan ternak yang umum digunakan peternak Gunungkidul meliputi rumput gajah, rumput odot, dan rumput kolonjono.
Jenis hijauan pakan tersebut, memiliki produktivitas tinggi dan proporsi tanaman dapat dimakan mencapai 80-90 persen. Kendati demikian, kandungan protein kasarnya masih relatif rendah.
“Karena itu, perlu kombinasi dengan tanaman leguminosa seperti gamal, lamtoro, turi, atau indigofera agar kebutuhan gizi ternak ruminansia bisa tercukupi,” jelasnya.
Baca Juga: Hasil Kendal Tornado FC vs PS Barito Putera, Laskar Antasari Ambil Alih Capolista Grup Timur
Menurutnya, dua hijauan seperti rumput gama umami dan indegofera sangat potensial dikembangkan di Gunungkidul karena adaptif terhadap kondisi tanah yang asam dan kering.
Kombinasi tanaman seperti ini, kata dia, bisa menjadi solusi penyediaan pakan berkualitas sepanjang tahun.
Ia berharap peternak dapat mengoptimalkan lahan yang ada, tidak hanya untuk tanaman pangan melainkan untuk tanaman pakan unggul.
Dengan begitu, ketersediaan hijauan dapat terjaga baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, bahkan di musim kemarau sekalipun.
“Tujuan akhirnya adalah menjamin kontinuitas pakan, meningkatkan produktivitas ternak, dan menekan biaya produksi peternak lokal,” imbuhnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita