GUNUNGKIDUL - Memasuki masa peralihan dari kemarau basah ke musim hujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam. Berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Gunungkidul diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada akhir Oktober 2025.
Kepala BPBD Gunungkidul Purwono menyampaikan, tanda-tanda peralihan musim telah terlihat sejak akhir September, dengan meningkatnya intensitas hujan dan munculnya cuaca ekstrem di beberapa wilayah.
“Cuaca ekstrem sudah mulai sering terjadi, disertai hujan lebat, petir, dan angin kencang,” ujar Purwono saat ditemui di Markas BPBD Gunungkidul pada Kamis, (23/10).
Menurutnya, BPBD telah menerima peringatan dini dari BMKG mengenai potensi hujan dengan intensitas tinggi di kawasan utara Gunungkidul. Selain itu, Purwono mengaku koordinasi dengan BMKG juga dilakukan untuk memetakan wilayah rawan bencana. Ia menjelaskan, potensi banjir diperkirakan terjadi di sepanjang aliran Kali Oya dan beberapa titik di Kapanewon Girisubo.
Sementara potensi longsor mendominasi wilayah utara, seperti Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, Semin, dan Ponjong. Untuk angin kencang, risikonya tersebar di seluruh wilayah kabupaten.
“Kewaspadaan wajib ditingkatkan agar dampak bencana dapat diminimalkan. Kami telah menyusun kajian potensi bencana dan menyiagakan tim untuk antisipasi dini,” tambahnya.
Selain di daratan, ancaman cuaca ekstrem juga mengintai wilayah pesisir selatan. BMKG memperkirakan gelombang tinggi dan angin kencang akan melanda perairan selatan DIJ selama masa pancaroba.
Untuk mengantisipasi risiko di kawasan pantai, BPBD bekerja sama dengan tim SAR dan relawan di Pantai Baron, Sadeng, dan Gesing untuk melakukan pemantauan rutin. “Kami mengimbau nelayan agar tidak memaksakan diri melaut ketika kondisi gelombang dan angin tidak memungkinkan,” kata Purwono.
Sementara itu, Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah I, Sunu Handoko, mengungkapkan bahwa timnya sudah mulai bersiaga di sejumlah pantai yang menjadi pusat aktivitas nelayan dan wisatawan.
Ia menambahkan, aktivitas nelayan di pesisir masih relatif aman, namun pihaknya terus memberikan imbauan langsung agar nelayan tidak memaksakan melaut saat gelombang tinggi atau hujan deras. “Kesiapsiagaan ini penting untuk mengingatkan nelayan agar tidak melaut jika cuaca memburuk. Hujan dan angin bisa datang tiba-tiba,” imbuhnya. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo