Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hasil Riset BRIN dan Bappeda: Padi Merah Segreng Handayani Jadi Kunci Ketahanan Pangan Gunungkidul

Yusuf Bastiar • Selasa, 14 Oktober 2025 | 22:43 WIB

Hasil Riset BRIN mengenai padi lokal Gunungkidul varietas Segreng Handayani mengungkap kebutuhan benih sekitar 224 ton per tahun. Namun, ketersediaan benih baru sekitar 15 t
Hasil Riset BRIN mengenai padi lokal Gunungkidul varietas Segreng Handayani mengungkap kebutuhan benih sekitar 224 ton per tahun. Namun, ketersediaan benih baru sekitar 15 t
GUNUNGKIDUL - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mendorong penguatan ketahanan pangan daerah berbasis potensi lokal.

Salah satunya melalui pengembangan varietas padi unggul lokal Segreng Handayani. Hasil riset menunjukkan memiliki potensi besar sebagai komoditas strategis pangan Gunungkidul.

Varietas ini dikenal berumur genjah, tahan kekeringan, beras berwarna merah, dan relatif tahan terhadap penyakit blas yang disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae.

Hasil riset yang dipaparkan peneliti dari PRTPP BRIN Dini Ariani menunjukkan, dalam periode 2021-2024, luas tanam padi Segreng Handayani di Gunungkidul rata-rata mencapai 8.975 hektare dengan kebutuhan benih sekitar 224 ton per tahun.

Namun, ketersediaan benih baru sekitar 15 ton per tahun, sehingga diperlukan strategi pemenuhan benih untuk mewujudkan mandiri benih lokal.

“Kondisi ini menjadi tantangan untuk mewujudkan kemandirian benih,” jelas Dini saat dikonfirmasi pada Selasa, (14/10/2025).

Selain itu, kata Dini, Segreng Handayani tidak hanya unggul secara agronomis, tetapi juga secara nutrisi.

Dini mengungkapkan beras merah Segreng Handayani memiliki kadar protein 7,64%, serat pangan 5,59%, serta indeks glikemik sedang 50,5.

Riset juga menemukan kandungan senyawa bioaktif seperti sitosterol (0,87%) dan stigmaterol (1,63%) yang bermanfaat bagi kesehatan.

“Komponen gizinya bahkan lebih tinggi dibanding beras merah lokal lain seperti Sembada Merah, Mawar, maupun varietas nasional Inpari 24,” ujar Dini.

Selain peningkatan produksi, riset juga mendorong diversifikasi olahan pangan berbasis beras merah Segreng Handayani, di antaranya berupa beras instan, rengginan, mi kremes, flake, dan cookies.

Menurut Dini, diversifikasi ini tidak hanya memperluas pasar produk lokal, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi bagi petani dan pelaku UMKM pangan.

Menurutnya, beras merah Segreng Handayani memiliki karakteristik yang cocok untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi.

“Dengan teknologi tepat guna, hasil olahan ini dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Kepala Bappeda Kabupaten Gunungkidul, Mohamad Arif Aldian menegaskan, hasil riset ini akan menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan pangan di Gunungkidul.

Riset yang dilakukan tidak hanya berhenti pada kajian ilmiah, menurutnya Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Bappeda tengah menyiapkan peta jalan (roadmap) pengembangan pangan lokal yang mengintegrasikan hasil riset BRIN dengan program penanggulangan kemiskinan dan peningkatan gizi masyarakat.

“Kami akan menindaklanjuti hasil penelitian ini dengan strategi pengembangan yang lebih terintegrasi, mulai dari penyediaan benih, penguatan kelompok tani, hingga promosi produk olahan berbasis beras merah Segreng Handayani,” kata Arif. (bas)

Editor : Bahana.
#Gunungkidul #BRIN #Padi Merah