Pedagang menilai lokasi baru tidak layak, sementara pemerintah desa menegaskan langkah ini sebagai bagian dari upaya penataan kota sesuai instruksi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.
Lurah Baleharjo, Agus Sulistiyo, menyebut relokasi akan mungkin dilakukan di kawasan kios pasar Besole yang berada tak jauh dari alun-alun.
Dari 200 kios yang tersedia, setengahnya sudah digunakan pedagang dan sisanya sudah dipesan untuk segera ditempati.
“Makanya kami arahkan PKL alun-alun ke lahan sisi utara, tepat di belakang Kantor Kejaksaan. Nantinya lahan itu akan diaspal dan dipakai tenda, bukan bangunan permanen,” jelasnya saat ditemui di Kalurahan Baleharjo pada Kamis, (21/8/2025).
Menurut Agus, area lahan kosong sisi utara Pasar Besole mempunyai kapasitas maksimal untuk 80 PKL.
Sistem yang dipakai pun sederhana, sebagian pedagang menggunakan tenda sementara, sebagian lain bisa tetap berjualan dengan gerobak masing-masing.
Ia juga mengungkapkan adanya rencana pengenaan biaya sewa lapak, meski mekanismenya belum difinalisasi.
“Soal sewa nanti masih kami hitung, bentuknya seperti apa masih akan dibicarakan,” katanya.
Namun penjelasan ini tidak meredakan keresahan PKL. Para pedagang justru menilai pemerintah tidak serius memikirkan keberlangsungan usaha mereka.
Koordinator Paguyuban PKL Alun-alun Wonosari, Among Prakoso, menegaskan relokasi ke Besole sangat tidak realistis. Pasalnya, jumlah anggota paguyuban PKL Alun-alun Wonosari mencapai 60 pedagang.
Itu saja, lanjut Among, ada 20 pedagang lain di luar paguyuban. Tak hanya itu, di alun-alun Wonosari juga terdapat usaha permainan anak, odong-odong, dan delman.
“Kalau ditempatkan di Besole, jelas tidak mencukupi. Belum ditambah puluhan PKL yang sudah lebih dahulu ada di depan pasar,” tegasnya.
Among menggambarkan bahwa ekosistem pedagang sudah terbentuk di alun-alun Wonosari.
Setiap malam, area tersebut ramai oleh pengunjung yang tidak hanya berbelanja makanan, tapi juga menikmati wahana hiburan rakyat.
Ia juga menyoroti soal kenyamanan berjualan. Lokasi yang ditawarkan pemerintah dinilai terlalu sempit, sehingga pedagang harus berhimpitan nantinya.
Sehingga, ini semakin memperkuat dugaan Among bahwa pemerintah tidak benar-benar serius memikirkan nasib PKL.
“Kalau dipindah, kami kehilangan pelanggan. Besole itu masih sepi, belum terbentuk pasar. Bagaimana kami bisa bertahan hidup?” ujarnya.
Paguyuban PKL menegaskan sikapnya untuk tetap bertahan di alun-alun. Mereka mendorong pemerintah membuat kebijakan penataan, bukan pemindahan.
“Daripada relokasi, mestinya ditata agar lebih rapi. Kalau dianggap mengganggu, ya ditertibkan, bukan dipindahkan. Karena kalau dipindahkan, sama saja menghilangkan sumber penghidupan kami,” ungkap Among. (bas)
Editor : Bahana.