Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Musim Kemarau Basah, Permintaan Air Bersih di Gunungkidul Turun Drastis

Yusuf Bastiar • Kamis, 14 Agustus 2025 | 23:30 WIB

Pengusaha droping air bersih Bramantyo sedang mengisi truk tangki miliknya yang berkapasitas 5.000 liter.
Pengusaha droping air bersih Bramantyo sedang mengisi truk tangki miliknya yang berkapasitas 5.000 liter.
GUNUNGKIDUL - Musim kemarau biasanya menjadi masa panen bagi para pengusaha dan sopir pemasok air bersih di pesisir selatan Gunungkidul.

Namun tahun ini, kemarau basah yang masih diiringi hujan beberapa kali dalam seminggu membuat permintaan air bersih merosot tajam.

Bagi Sagio (59) seorang pengusaha supplier air bersih asal Kalurahan Giritirto, Kapanewon Saptosari, perbedaan ini terasa signifikan.

“Tahun lalu bulan Agustus sehari bisa sampai 60 tangki. Sekarang paling banyak 15 tangki, kadang cuma 5 -10 tangki saja,” ujar Sagio saat ditemui di rumahnya pada Kamis, (14/8/2025).

Sagio memanfaatkan sumur pribadi yang ia gali pada awal 2000-an. Kemudian, air ditampung di bak besar sebelum diisikan ke truk tangki.

Lokasinya strategis, hanya 10 meter dari sumber mata air yang tak pernah kering di Kalurahan Giritirto.

Dengan kapasitas 5.000 liter per tangki, ia menjual air seharga Rp30.000. Pelanggannya, kata Sagio, kebanyakan berasal dari Kapanewon Purwosari dan Panggang, dua wilayah yang biasanya mengalami krisis air bersih saat kemarau.

“Kalau pakai listrik masih untung. Tapi kalau pakai bensin, pasti rugi,” jelasnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh pengusaha droping air, Bramantyo (31), sopir sekaligus pemilik truk tangki pengangkut air dari Padukuhan Gebang, Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang.

Ia mengaku pesanan air bersih selama musim kemarau basah mengalami penurunan drastis.

Tahun lalu, Bram menyebut ia bisa bolak-balik mengirim air hingga 10 kali sehari.

Sedangkan untuk Agustus ini, paling banyak hanya 5 kali.

“Sekarang masih ada hujan, jadi permintaan belum tinggi. Malah sebagian besar justru dari peternak ayam, bukan warga,” kata Bramantyo.

Air yang ia bawa seluruhnya berasal dari sumber milik Sagio.

Ia menjualnya ke konsumen seharga Rp150.000 per tangki, sudah termasuk biaya antar dan bongkar muatan.

Bagi penyedia air bersih, penurunan permintaan berarti pendapatan berkurang.

Namun di sisi lain, kemarau basah membawa kabar baik bagi warga yang selama ini mengandalkan suplai air dari luar desa.

“Alhamdulillah kalau warga nggak ada yang kekurangan air. Meskipun buat kami agak sepi, yang penting kebutuhan mereka tercukupi,” ujar Bramantyo. (bas)

Editor : Bahana.
#dropping air #Gunungkidul #Permintaan Air Bersih #kemarau basah