Woto seorang pemburu sapi di Pasar hewan Semanu menuturkan, setiap kliwonan di Semanu adalah saat terjadi transaksi jual beli sapi.
Sebab, pada saat itulah terjadi tawar menawar harga yang sengit.
Menurut Woto, ada dua metode menarget harga sapi yang biasa digunakan di Pasar Hewan Semanu, yakni cara Jogrok dan tafsir.
“Dua cara itu biasa dipakai di sini,” ujar Woto saat ditemui di Pasar Hewan Semanu Jumat, (16/5/2025).
Biasanya, berdasar pengamatan Woto cara yang biasa dipakai pembeli di pasar ini untuk menarget harga Sapi menggunakan metode timbang bobot alias jogrok.
Cara ini menjadi pilihan pamungkas pembeli sapi dikarenakan antara bobot dan harga selaras.
Dalam Kondisi sapi masih hidup, hewan tersebut dibawa untuk ditimbang.
Kemudian, andaikan timbangan ril berat sapi mencapai 600 Kilo, maka berat itulah yang nantinya dikalikan harga pasaran daging sapi di Gunungkidul.
“Pengeluaran uang yang harus keluarkan untuk membeli sapi itu sesuai dengan berat bobot sapinya,” ujar Woto.
Sedangkan, metode tafsir menjadi alternatif lain bagi para pecinta sapi terkhusus untuk dikurbankan.
Metode ini pada umumnya harga sapi akan disesuaikan dengan suasana hati pembeli. Bukan perkara hati susah atau bahagia.
Tetapi, lebih pada ketertarikan pembeli terhadap Sapi.
Bagi Woto metode tafsir dalam menentukan harga sangat dipengaruhi oleh kesukaan pembeli terhadap sapi pada saat pertama kali melihat.
Baginya, kesukaan itu dikarenakan pembeli tertarik dengan bentuk kepalanya, warnanya, atau bahkan perawakan sapinya.
“Itukan misalnya jenis sapi lokalan Gunungkidul saya beli 21 Juta. Padahal timbangannya cuman sampai 400 kilo. Itukan harganya melebihi dari timbangan harga daging sapi perkilonya. Itu tafsir,” tambah Woto.
Sekarang ini standar harga sapi di Pasar Hewan Semanu rata-rata mencapai 21 Juta.
Masih dalam penuturan Woto, kebanyakan pembeli sapi yang berasal dari luar Gunungkidul seperti Bantul, Sleman, Jogja, dan Kulonprogo biasanya langsung membeli sapi ke petani.
“Ya, enggak ke pasar,” ujarnya.
Editor : Bahana.