RADAR JOGJA – Kalurahan Kelor, Kapanewon Karangmojo menjadi penyumbang tertinggi kasus stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita di Gunungkidul. Tingginya kasus stunting akibat kekurangan gizi tersebut menjadi sorotan sejumlah pihak.

Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan MY Esti Wijayati mengatakan, penanganan stunting menuntut keterlibatan seluruh pemangku kepentingan pemerintah. Harapannya dapat diatasi secara tuntas dan menyeluruh, mulai dari pencegahan hingga penanganan berkelanjutan. “Sudah saatnya kerja-kerja politik menjangkau akar persoalan rakyat kecil dan menyangkut urusan dapur ekonomi rakyat,” kata MY Esti Wijayanti saat menggelar kegiatan dapur umum di Balai Padukuhan Ngunut Kidul, Kelurahan Kelor, Kapanewon Karangmojo, Senin (23/1).

Dia melanjutkan, sudah saatnya kerja-kerja politik menjangkau akar persoalan rakyat kecil dan menyangkut urusan dapur ekonomi rakyat. Terlebih, stabilitas politik sangat ditentukan urusan dapur rakyat tercukupi yang akan keluar daya gerak rakyat mewujudkan kejayaan Indonesia Raya. “Ingat balita hari ini adalah Generasi Emas Tahun 2045 yang akan memasuki usia produktif yang tugasnya berat menjadi penggerak utama memajukan bangsa kita ini,” ujarnya.

Menurut dia, terpilihnya Kelurahan Kelor Kapanewon Karangmojo sebagai tempat berlangsungnya kegiatan dapur umum bukan tanpa alasan. Kelurahan Kelor menjadi kelurahan tertinggi kasus balita mengalami gangguan pertumbuhan panjang dan tinggi badan berada di bawah standar.”Dalam dapur umum menyediakan kegiatan pengolahan bahan makanan bergizi berupa sayuran dan protein untuk ibu hamil, ibu menyusui, beserta anak balita,” ungkapnya.

Sementara itu, Lurah Kelor, Suratman, membenarkan ada 30 balita dikategorikan mengalami stunting oleh pemerintah dari semula hanya 25 balita. Pihak desa telah menyikapi permasalahan itu dengan pemberian makanan tambahan setiap bulan bertepatan dengan kegiatan rutin penimbangan bayi posyandu yang jalan di tujuh padukuhan di Kelor. “Pendekatan keluarga stunting ini memang harus pas. Karena ada juga warga yang tidak berkenan kalau bayinya dinyatakan stunting yang dipahami kekurangan asupan gizi dan gangguan pertumbuhan,” kata Suratman.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan, stunting atau gagal tumbuh pada anak karena kekurangan gizi. Bukan hanya pada saat ibu hamil, tapi mundur ke periode lebih awal, yakni sejak saat calon ibu berusia remaja.“Nikah dini memiliki banyak risiko. Maka program pencegahan stunting ada pada sektor non kesehatan dan kesehatan,” kata Dewi Irawaty.

Program pencegahan bidang kesehatan di antaranya edukasi ke masyarakat seputar kesehatan. Termasuk tindakan pemberian tablet tambah darah supaya tidak anemia kepada yang berisiko, pemeriksaan kehamilan lengkap sampai nifas, dan lain-lain. “Pencegahan stunting kami mengupayakan dengan berbagai program dan kegiatan. Salah satunya dengan memberikan pemahaman mengenai nikah dini kepada siswa sekolah,” ujarnya.

Berdasarkan data, pada semester I Tahun 2022 terdapat tujuh Puskesmas di Bumi Handayani menangani kasus tertinggi stunting meliputi ; Puskesmas Karangmojo II, Puskesmas Gedangsari I, Puskesmas Ponjong II, Puskesmas Tepus I, Puskesmas Karangmojo II, dan Puskesmas Patuk I. (gun/din)

Gunungkidul