RADAR JOGJA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul terpaksa memanfaatkan sisa obat antraks untuk menangani kasus PMK. “Kita gunakan sisa desinfektan, obat-obatan, vitamin layak pakai. Semua masih spesifik,” kata Retno Widiastuti, Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul Jumat (5/6).

Dia menyebut, pembelian obat PMK di Gresik, Jawa Timur bahkan harus dengan cara patungan. Sementara ketersediaan obat sisa antraks di gudang obat, sampai dengan sekarang masih aman. Sisa obat-obatan yang ada cukup untuk digunakan sekitar 500 hewan ternak. Hanya diakui, jika sampai muncul ledakan kasus, situasinya jelas berbeda.

Menurutnya, pengobatan hewan ternak terjangkit PMK berlangsung sekitar tiga minggu. Setiap tiga hari sekali diberi obat dan vitamin.”Pengobatan melalui dokter hewan gratis,” ujarnya.

Berdasarkan data, sampai dengan saat ini tercataat ada 148 kasus aktif PMK di Gunungkidul, menyebar di sejumlah kapanewon. Kebijakan penutupan sementara pasar hewan, dinilai sangat tepat untuk mengurangi laju penyebaran penyakit. “Sebagian besar sumber penularan PMK berasal dari pasar hewan,” ucapnya.

Sebagai langkah persiapan, dinas tengah mengajukan tambahan anggaran penanganan PMK. Menurutnya penanganan pasca-terjangkit PMK tidak bisa ditunda. Karena penggunaan disinfektan untuk sterilisasi penyemprotan kandang dan pasar hewan sangat boros. Serta kelengkapan petugas seperti sarung tangan sekali pakai. Untuk kesiapan petugas di lapangan, tercatat ada 27 orang. Terdiri dari PNS dokter hewan struktural 6 orang, fungsional lapangan 16 orang termasuk tenaga harian lepas, dan paramedik 5 orang. “Kendala petugas adalah soal medan, karena lokasi pengobatan hewan ternak terjangkit PMK ada di pegunungan,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Gunungkidul Kelik Yuniantoro mengaku, telah memberikan edukasi dan pemahaman kepada para pedagang yang masih nekat berjualan meski pasar hewan ditutup. “Seluruh pasar berjumlah 11 titik ditutup dan awasi agar tidak ada transaksi jual beli. Tujuannya untuk memutus mata rantai penyebaran PMK,” kata Kelik Yuniantoro.

Dia mengakui, pada Kamis (2/6) sempat meminta para pedagang agar tidak nekat berjualan di sekitar pasar Siyono Harjo. Petugas masih melakukan sterilisasi sampai dengan 14 Juni atau semua pasar hewan ditutup selama dua pekan. (gun/eno)

Gunungkidul