RADAR JOGJA – Harga minyak goreng (migor) di Gunungkidul berangsur turun. Meskipun hanya turun tipis. Konsumen masih menganggap mahal. Salah satu penyebab penurunan harga karena permintaan berkurang. Larangan ekspor minyak kelapa sawit mentah atau CPO, gencarnya operasi pasar disebut-sebut mampu mempengaruhi harga migor di pasaran. Saat sekarang ketersediaan migor melimpah sehingga stok aman.

Seorang pedagang di Pasar Argosari Wonosari, Sugiyanti mengatakan, harga minyak goreng kemasan turun tipis. Demikian termasuk jenis minyak goreng kemasan ketersediaan lebih dari cukup.”Harga secara umum minyak goreng kemasan masih stabil tinggi. Turun Rp 1000 per liter,” kata Sugiyanti saat dihubungi kemarin (16/5).

Sementara itu, Kepala Seksi Distribusi, Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Gunungkidul, Sigit Haryanto mengatakan, harga minyak goreng kemasan terpantau turun hingga di tingkat ritel.”Kalau dari pantauan di swalayan sampai toko modern, memang ada penurunan harga,” kata Sigit Haryanto.

Jika sebelumnya harga minyak goreng kemasan per liter mencapai Rp 25 ribu, saat ini di kisaran Rp 24 ribu atau selisih Rp 1.000 per liter. Penurunan harga dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya karena operasi pasar (OP) minyak goreng curah yang gencar dilakukan sebelum lebaran lalu.”Kebutuhan masyarakat terpenuhi lewat OP, jadi permintaan minyak goreng agak turun dan berpengaruh pada harga,” ujarnya.

Secara umum, kebijakan pemerintah turut pusat ikut mempengaruhi. Antara lain larangan ekspor Crude Palm Oil (CPO) yang menjadi bahan baku minyak goreng. Saat ini Disdag Gunungkidul kini menghentikan OP minyak goreng curah. Dihentikan sementara sekaligus dilalukan evaluasi dan melihat perkembangan harga minyak goreng di pasaran.”Harga migor kemasan tergantung merk ada yang Rp 23.000- Rp 23.500 per liter. Kalau curah di tingkat distributor dan grosir Rp 14.000 per liter atau Rp 15.500 per kilogram,” ujarnya. (gun/din)

Gunungkidul