RADAR JOGJA – Operasi pasar (OP) untuk komoditas minyak goreng di sejumlah kapanewon di Gunungkidul dimulai hari ini (24/1). Total, ada 4.000 liter minyak goreng yang akan didistribusikan ke sejumlah kapanewon.

Kepala Seksi Distribusi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Gunungkidul Sigit Haryanto menjelaskan, minyak goreng akan disalurkan melalui sembilan organisasi masyarakat (ormas). Dengan rincian 144 liter melalui asosiasi pengusaha makanan dan minuman olahan 44 liter, Fatayat NU 360 liter, LDII 360 liter, dan MTA 240 liter. Serta lewat Salimah sebanyak 180 liter, Jemaat Kristen 240 liter, Jemaat Katholik 240 liter, paguyuban pedagang klethikan 180 liter, dan Koperasi Gemi 180 liter.

Mekanisme OP, lanjutnya, akan diserahkan kepada masing-masing penyalur. Hanya saja, pembeliannya dengan cara tebus harga senilai Rp 14 ribu per liter. “Sekarang minyak gorengnya sudah sampai di dinas perdagangan, kita tinggal mendistribusikan ke masyarakat,” kata Sigit Haryanto saat dihubungi kemarin (23/1).

Sigit menuturkan, program OP minyak goreng saat ini adalah kerjasama antara Dinas Perdagangan Kabupaten Gunungkidul dengan Disperindag DIJ dan Kementrian Perdagangan (Kemendag) RI.

Program ini diharapkan mampu menekan lonjakan harga pasar minyak goreng yang mencapai Rp 19.500 per liter. Menurutnya, belum turunnya harga minyak goreng kemasan karena permintaan di masyarakat masih tinggi. “Dengan OP mudah-mudahan harga minyak goreng kemasan dan minyak goreng curah bisa terjangkau dan stabil,” harapnya.

Pemerintah melalui Kemendag, lanjutnya, sebelumnya telah menetapkan kebijakan harga minyak goreng setara Rp 14 ribu per liter. Kebijakan ini, membuat toko ritel yang ditunjuk, langsung diserbu konsumen.
Hanya saja, masyarakat yang membeli minyak goreng kemasan lima liter dengan harga Rp 70 ribu dibatasi maksimal 1 pcs. Sementara minyak goreng kemasan dua liter seharga Rp 28 ribu, satu orang hanya boleh membeli maksimal 1 pcs. “Dan kemasan satu liter Rp 14 ribu, maksimal pembelian 2 pcs,” bebernya.

Perwakilan Jemaat Katolik Endro Guntoro mengapresiasi kebijakan satu harga minyak goreng dari pemerintah. Hal ini sebagai upaya pemerintah untuk membantu masyarakat miskin.

Hanya saja, jelas Endro, saat ini ormas masih belum memutuskan untuk mengambil kuota miyak goreng sebanyak 240 liter tersebut. Ada beberapa kendala internal dan belum menemukan jalan keluar. “Kami kesulitan menebus,” kata Endro.

Waktu yang mepet, ungkap Endro, membuat pengurus jemaat merasa kesulitan melakukan koordinasi internal. Padahal untuk mengambil minyak goreng, harus menyediakan uang tebusan sebesar Rp 3.360.000. “Harapan kami, jika besok (hari ini, Red) belum bisa menebus jatahnya tidak hangus namun bisa ditebus lain hari,” ucapnya. (gun/eno)

Gunungkidul