RADAR JOGJA – Artis terbaik ASEAN International Film Festival and Awards 2017, Mbah Ponco Sutiyem, tutup usia. Meninggal dunia di usia 105 tahun pada Selasa Kliwon (4/1) pukul 22.00 di kediamannya, Padukuhan Batusari, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen.

GUNAWAN, Gunungkidul, Radar Jogja

Kabar lelayu meninggalnya Mbah Ponco Sutiyem disampaikan oleh Dukuh Batusari Heri Arwanta. Kepada Radar Jogja dia menyampaikan, almarhumah dikebumikan di pemakaman setempat. Jarak sekitar 500 meter dari rumah duka, jenazah almarhumah dibawa dengan mobil bak terbuka menuju peristirahatan terakhir kemarin (5/1) siang.

“Simbah (Ponco Sutiyem) sejak tiga tahun terakhir mengalami stroke. Sulit berbicara, namun masih bisa berjalan keluar masuk rumah,” kata Heri.
Sejak suaminya Ponco Sentono meninggal dunia satu tahun lalu, kesehatan peraih penghargaan Special Jury Award kategori akting terbaik dunia perfilman Asia Tenggara itu kesehatannya terus menurun. Bahkan sejak 20 hari terakhir menghabiskan waktu di dalam rumah. “Sudah mulai sulit makan,” ungkapnya.

Raganya terus melemah dan akhirnya tutup usia. Semasa hidup, Mbah Ponco Sutiyem selain dikenal sebagai artis yang patuh terhadap ajaran agama. Dia rajin menjalankan salat lima waktu. Meski usia sepuh, banyak memberikan inspirasi generasi muda, terutama perihal kegigihannya dalam bekerja. “Simbah ketika sehat tidak bermalas-malasan. Sebisa mungkin beraktivitas, misalnya menyapu halaman,” ungkapnya.

Tentu semua nilai positif yang ada pada diri Mbah Ponco Sutiyem bisa menjadi pelajaran bagi semua orang. Heri sendiri merasa kagum karena semasa hidup hingga tutup usia, Mbah Ponco memiliki nilai positif. Walau begitu, sebagai manusia tentu tetap ada salah, baik disengaja atau tidak. Mewakili keluarga duka, pihaknya mengucapkan permintaan maaf.

“Kami terharu yang melayat cukup banyak. Bahkan dihadiri para pejabat. Ada karangan bunga dari Bupati Gunungkidul Pak Sunaryanta,” ucapnya dan menyebut pada malam harinya bakal digelar acara yasinan.

Sementara itu, Dukuh Pagerjurang Risdiyanto menyampaikan, sutradara film Ziarah BW Purba Negara hadir ke rumah duka. Bahkan terlihat di pusaran makam Mbah Ponco. Selain itu, juga ada kru film turut hadir. Pada waktu itu sesaat setelah nama Mbah Ponco ngehits, banyak tamu berdatangan hingga dari luar kota. “Saya ikut bangga dengan Mbah Ponco,” katanya.

Untuk diketahui, Mbah Ponco masuk nominasi sebagai artis terbaik (Best Actress) di ajang AIFFA 2017. Di kategori bergengsi itu, Mbah Ponco bersaing dengan sederet aktris papan atas di Asia Tenggara (ASEAN) seperti Ngoc Thanh Tam (The Way Station/Vietnam), Subenja Pongkorn (Bangkok Nites/Laos), Ai Ai Delas Alas (Area/Filipina), serta Cut Mini (Athirah/Indonesia). Dalam ajang bergengsi yang dihelat di Hotel Pullman Sarawak, Malaysia,
Sedikit gambaran, tim film Ziarah mengajak Mbah Ponco Sutiyem main film karena kesengsem dengan perangainya. Tim berkunjung ke rumah Mbah Ponco yang saat itu tengah menyapu di depan rumah. Gerak-gerik Mbah Ponco diawasi. Tak butuh waktu lama untuk menjatuhkan pilihan pada nenek yang masih terlihat energik saat menyapu itu, untuk terlibat dalam film yang mengambil alur cerita Agresi Militer Belanda Ke-2 pada 1948. Perjalanan Mbah Sri yang diperankan Mbah Ponco itu sederhana, dia ingin dimakamkan di samping makam suaminya.“Aku ikut main film ini supaya para cucu dan cucu buyutku kelak bisa melihat dan mengingatku lewat film ini ketika kelak aku sudah meninggal,” tutur Mbah Ponco saat gala premiere film pada 13 Mei 2017 lalu. (laz)

Gunungkidul