RADAR JOGJA -Jumlah lahan lahan abadi atau lahan khusus pertanian di Gunungkidul mengalami penyusutan. Berkurangnya lahan hijau ini penyebabnya beragam, salah satunya pelabaran kawasan industri.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul Adinoto mengatakan, awalnya data lahan abadi seluas 30 ribu hektare. Kemudian dengan adanya kajian implementasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) 2021 turun menjadi 22.234 hektare.”Dengan rincian lahan inti 21.576 hektare, dan lahan cadangan 657,92 hektare,” kata Adinoto saat dihubungi Selasa (7/12).
Dia menjelaskan, penurunan ini dasarnya selain alih fungsi lahan mencapi lebih dari 300 hektare, juga dikarenakan adanya pengeluaran lahan kehutanan yang semula masuk menjadi kawasan LP2B.
“Kemudian juga (adanya) program-program strategis pemerintah seperti Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS),  kawasan industri Semin,  buffer jalan  dan lain-lain,” ujarnya.
Meski demikian, dibanding kabupaten lain wilayah Provinsi DIJ alih fungsi lahan di Gunungkidul diklaim paling kecil. Jumlah lahan abadi wilayah Bumi Handayani masih tertinggi se Provinsi DIJ.”Kalau bicara prosentase itu, tidak sampai satu persen alih fungsi lahan di Gunungkidul,” ungkapnya.
Menganai alih fungsi areal pertanian diluar lahan abadi, sebarannya mulai dari kawasan Kapanewon Semin lahan dijadikan terminal, lalu di Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen didirikan hotel.
“Sekarang kami sedang melakukan kajian implementasi LP2B. Nanti kalau sudah di SKkan bupati, kemudian turunannya menjadi perda sudah lock (terkunci). Artinya itu menjadi lahan hijau atau lahan abadi,” ungkapnya.
Bagaimana jika petani kepepet menjual?  diperbolehkan selama tidak merubah status lahan atau tidak merubah fungsi pemanfaatan. Misalnya jual lahan pertanian dan digunakan lagi untuk bertani.
Sementara itu, Kepala Kundha Mandala Niti Sarta Sasana atau Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Gunungkidul, Winaryo mengatakan, proses revisi Perda No.6/2012 tentang RTRW sudah mendapatkan pengesahan subtansi dari DPRD. Tahapan lanjutan dilakukan kajian terkait dengan draf perda oleh tim dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang.
“Tahapannya masih panjang untuk bisa disahkan menjadi perda baru,” kata Winaryo.
Dia menjelaskan, salah satu perubahan RTRW membahas tentang area kawasan industri, salah satunya Kapanewon Semin, tepatnya Kalurahan Candirejo. Dalam perda lama, area yang disediakan 75 hektare. Namun dalam revisi, area diperluas hingga 400 hektare.
Cakupannya meluas sampai Kalurahan Rejosari Kapanewon Semin dan Kalurahan Sambirejo Kapanewon Ngawen. Ketiga wilayah tersebut saling berbatasan.
“Kalurahan Sambirejo berada di sisi barat, sedangkan Kalurahan Rejosari berada di sisi timur Kalurahan Candirejo,” ungkapnya. (gun/din)
Gunungkidul