RADAR JOGJA – Mobilitas warga lima RT di Padukuhan Kedungwanglu, Kalurahan Banyusoso, Kapanewon Playen terganggu saat musim penghujan. Pemukiman mereka berada di lingkaran Sungai Oya dan Prembutan. Ketika banjir datang ratusan jiwa terisolir.

Dukuh Kedungwanglu Burhan Tholib mengatakan, wilayahnya terdiri dari delapan RT. Lima RT diantaranya sering terisolasi akibat banjir akibat luapan air Kali Prambutan. Itu terjadi karena di muara ada pertemuan dengan Kali Oya.”Di awal musim hujan ini, dua crossway yang dibangun terendam sebanyak empat kali sehingga warga terisolasi,” kata Burhan Tholib Senin (22/11).

Dia menjelaskan, warga terisolir sebanyak 470 jiwa meliputi RT 3,4,5,6 dan 7. Aktivitas penduduk baru bisa normal ketika air surut. Dalam catatannya, rentang waktu satu bulan total sepuluh kali terendam.“Kondisi ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu hingga sekarang,” ujarnya.

Sementara itu, Lurah Banyusoco Damanhuri mengatakan, secara geografis letak Padukuhan Dungwanglu berada di daerah aliran sungai sehingga potensi banjir tidak bisa dihindarkan. Air dari Kapanewon Playen, Paliyan dan Kapanewon Wonosari masuk ke Kali Prembutan.”Sering terjadi banjir dan mengakibatkan crossway terputus dan menyebabkan aktivitas warga menjadi terhenti,” kata Damanhuri.

Dia mengungkapkan, dua crossway tersebut merupakan satu-satunya akses darat bagi warga lima RT di Kedungwanglu. Kanan kiri dikelilingi perbukitan sehingga akses hanya jalan setapak.“Begitu banjir dan crossway terendam maka aktivitas warga terhenti,” ungkapnya.

Menurutnya, banjir di lokasi sangat berbahaya bagi keselamatan masyarakat. Meski demikian pihaknya bersyukur sampai dengan sekarang belum pernah ada korban jiwa karena banjir. Warga sudah paham dengan kondisi di daerahnya.”Saat crossway terendam warga memilih aman. Terisolasi selama dua hari sudah biasa dialami,” ucapnya. (gun/pra)

Gunungkidul