RADAR JOGJA – Pemkab Gunungkidul membuka pintu investasi yang kemungkinan datang silih berganti. Itu guna memajukan pertumbuhan perekonomian masyarakat agar tidak terus tertinggal.

Peluang investasi kali ini datang dari Kanoppi2. Adalah proyek penelitian yang didukung Pusat Penelitian Pertanian Internasional Australia (ACIAR) dan dikoordinir World Agroforestry (ICRAF) Indonesia. Melibatkan peneliti-peneliti CIFOR, WWF, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Universitas Mataram, Murdoch University dan Threads of Life.

Asisten II Setda Kabupaten Gunungkidul Siti Isnaini Dekoningrum mengatakan, rekomendasi hasil penelitian Kanoppi2 selaras dengan visi daerah, sapta karya, khususnya dalam visi keempat. “Yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam membangun industri pariwisata berbasis potensi daerah,” kata Siti Isnaini Rabu (17/11).

Selain itu, rekomendasi hasil penelitian meningkatkan kapasitas masyarakat dalam tata kelola pariwisata. Meningkatkan kesejahteraan petani, peternak, dan pedagang dengan membangun sentra industri pertanian, sentra industri peternakan, dan perdagangan berbasis masyarakat.

“Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk mendiskusikan dan merumuskan bersama potensi pengembangan wisata edukasi berbasis komoditas jati, madu dan bambu,” ungkapnya.

Menurutnya investasi tersebut berpeluang mendukung investasi dan pengembangan pariwisata dan ekonomi kerakyatan berbasis hasil riset Kanoppi 2 di Kabupaten Gunungkidul. Selain itu juga serta mewujudkan forum komunikasi yang dapat mengekplorasi peluang kerjasama.

“Menjadikan komoditas jati, madu dan bambu sebagai bagian dari investasi pariwisata dan ekonomi kerakyatan bersama parapihak seperti swasta, perguruan tinggi, pemerintah di Kabupaten Gunungkidul,” ucapnya.

Sementara itu, Koordinator penelitian Kanoppi2 Aulia Perdana mengatakan, tahun ini menandai berakhirnya penelitian di wilayah Gunungkidul. ”Penting bagi kami untuk bisa menyampaikan rekomendasi yang bisa menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan produksi dan pemasaran kayu dan hasil hutan bukan kayu,” kata Aulia. (gun/bah)

Gunungkidul