RADAR JOGJA – Kasus Covid-19 di Gunungkidul terus melandai. Belakangan kasusnya dapat dihitung dengan jari. Kini, Pemkab Gunungkidul berkomitmen memberantas demam berdarah dengue (DBD) pada musim hujan tahun ini.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penularan Penyakit Dinkes Gunungkidul Sumitro mengatakan, peningkatan kasus DBD tahun ini terpantau di awal tahun dan akhir tahun. “Menurut kreteria jenis kelamin, lak-laki mendominasi kasus yakni 42 kasus dan perempuan 28 kasus. Sementara untuk meninggal nol kasus,” kata Sumitro, Jumat (5/11).

Menurutnya sebaran wilayah endemik DBD tidak mengalami perubahan yakni, Kecamatan Karangmojo, Ponjong, Wonosari dan Patuk. Kecamatan Wonosari tertinggi. Meski ada peningkatan kasus DBD belum ditetapkan KLB (Kejadian Luar Biasa).

Sebagai upaya pencegahan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan koordinasi lintas sektoral dari tingkat kabupaten hingga desa diperkuat. Pencegahan DBD bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti fogging hingga PSN dengan program 3M (mengubur, menguras dan menutup) tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (Juru Pemantau Jentik) sangat diperlukan. Tugas Jumantik memastikan tidak ada sarang nyamuk yang terbentuk di lingkungan sekitar rumah sehingga kalau bebas jentik, secara otomatis tidak berkembang jadi nyamuk dewasa.

Wakil Ketua DPRD Gunungkidul, Heri Nugroho mengatakan, persoalan lingkungan menjadi tanggungjawab bersama. Upaya pencegahan hendaknya digalakan agar ancaman DBD bisa ditekan seminimal mungkin.“Di tengah acaman Covid-19, penyakit DBD juga mengintai. Kami mendorong pemerintah agar bergerak cepat melakuan pencegahan secara masif,” kata Heri Nugroho. (gun/pra)

Gunungkidul