RADAR JOGJA – Menjelang tutup tahun, capaian investasi di Kabupaten Gunungkidul melejit. Bahkan, melebihi target yang sudah ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). Salah satu faktornya, kemudian berinvestasi sejak penerapan sistem online single submission (OSS).

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (DPMPT) Gunungkidul Irawan Sujatmiko mengatakan, angka investasi di Gunungkidul saat ini mencapai lebih dari Rp 134 miliar. Angka tersebut masuk dalam perhitungan triwulan II 2021.

“Modal usaha yang ditanamkan banyak mengarah pada satu sektor, yakni akomodasi wisata,” kata Irawan Sujatmiko saat dihubungi Rabu (3/11).
Dia menjelaskan, investasi tersebut terbagi dalam tiga kategoti. Mulai dari laporan kegiatan penanaman modal (LKPM), melalui National Single Window for Investment (NSWI), dan izin usaha mikro dan kecil (IUMK). “Nilai investasi tertinggi tercatat pada LKPM triwulan I 2021 mencapai Rp 60-an miliar,” ujarnya.

Lebih rinci disampaikan, LKPM triwulan I sebesar Rp 60.443.300.190,00, NSWI dan IUMK dengan nilai mencapai angka Rp 42.735.377.436,00. Sedangkan pada LKPM triwulan II mencapai Rp 30.828.645.017,00. “Sehingga totalnya sampai saat ini mencapai Rp134.007.322.643,00,” ungkapnya.

Mantan Kepala Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (Kapedal) Kabupaten Gunungkidul itu melanjutkan, nilai investasi yang ditanamkan di Gunungkidul tahun ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Namun, ia tak merinci berapa persen peningkatan yang tercapai. “Investasi tersebut langsung berpengaruh pada pendapatan daerah. Terutama pada pendapatan asli daerah (PAD). Efeknya ke peningkatan PAD,” bebernya.

Bupati Gunungkidul Sunaryanta menegaskan bahwa investasi masih jadi program unggulan pemulihan ekonomi ditengah dampak pandemi Covid-19. Dua lainnya adalah ekonomi kerakyatan dan pariwisata.

“Kami terbuka pada investor yang ingin menanamkan modal usahanya di Gunungkidul. Terutama untuk meningkatkan pembangunan,” kata Sunaryanta.
Terpisah, anggota DPRD Gunungkidul dari Fraksi PAN Sugeng Nurmanto mengatakan, untuk mengembangkan daerah pemkab harus berinovasi. Bumi Handayani memiliki asset pariwisata, namun sejauh ini belum dioptimalkan.

“Kami akui, sektor wisata memang berkembang dengan pesat. Tapi pendapatan yang diperoleh masih bertumpu pada retribusi tiket masuk. Pendapatan dari sektor pajak hotel dan restoran belum optimal,” kata Sugeng Nurmanto. (gun/bah)

Gunungkidul