RADAR JOGJA – Warga di Mendak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul kembali menggelar tradisi unik membuka Cupu Panjolo. Agenda tahunan tersebut oleh sebagian orang diyakini mampu memprediksi kejadian masa depan.

Prosesi pembukaan Cupu Panjolo berlangsung di kediaman Dwidjo Sumarto Senin malam (25/10) dan berakhir dini hari kemarin (26/10). Namun karena masih berada di masa pandemi Covid-19, ada batasan pengunjung. Hal tersebut dilakukan untuk menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Untuk diketahui, kain pembungkus tiga cupu masing-masing diberi nama Cupu Semar Tinandu, merupakan gambaran keadaan penguasa dan pejabat tinggi. Cupu Palang Kinantang sebagai gambaran masyarakat menengah ke bawah dan Cupu Kenthiwiri menggambaran rakyat kecil.”Meniko namung ngelingke pratondo (ini hanya sebagai pengingat akan pertanda), lan sumonggo sedoyo masyarakat sabar mboten sah menggaleh werno-werno (dan mari semua masyarakat sabar serta tidak usah berfikir macam-macam),” kata Juru kunci Cupu Ki Panjolo Dwidjo Sumarto. “Simbol-simbol tersebut hanyalah pengingat dalam menjalani kehidupan.”

Ketua Dewan Budaya Gunungkidul CB Supriyanto mengatakan, setiap gambar yang muncul pada kain pembungkus Cupu Panjolo, penafsirannya diserahkan ke masing-masing orang. Dulu gambar-gambar yang muncul itu hanya dipakai sebagai lambang atau tanda dalam kegiatan pertanian. “Kalau sekarang dimaknai ke banyak hal termasuk politik dan lain-lainnya dipersilakan,” kata CB Supriyanto. (gun/pra)

Gunungkidul