RADAR JOGJA – Skema ganjil genap kendaraan di akhir pekan diperluas hingga Gunungkidul. Tujuannya untuk melakukan pembatasan pengunjung ke obyek wisata.

Kasat Lantas Polres Gunungkidul AKP Martinus Sakti mengatakan, kebijakan penerapan ganjil genap dikoordinasikan dengan pemkab setempat. Sedikit gambaran, kata dia, sudah ada konsep dasar skema ganjil-genap.

Penerapan di lapangan disesuaikan antara tanggal di saat akhir pekan dengan nomor terakhir plat kendaraan. Angka ganjil-genap diambil menurut angka terakhir dari empat deret plat nomor kendaraan. Kemudian disesuaikan dengan tanggal hari pemberlakukannya.”Yang jelas di tanggal ganjil hanya boleh kendaraan dengan plat nomor ganjil yang masuk wisata. Hal sama berlaku saat tanggal genap,” ujarnya, Jumat(22/10).

Misalnya hari ini merupakan tanggal ganjil. Maka hanya kendaraan dengan plat nomor terakhir 1, 3, 5 dan seterusnya yang bisa berkunjung. Begitu juga sebaliknya kalau nanti di tanggal genap. “Jika tidak sesuai diminta putar balik,” ucapnya.

Menurutnya, penerapan skema ganjil-genap mengikuti Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri). Kebijakan mulai dilakukan setiap hari Jumat mulai pukul 12.00 hingga Minggu pukul 18.00.Kendaraan pribadi, pemeriksaan kendaraan dilakukan didekat tempat pemungutan retribusi wisata. Sedangan, pemeriksaan bus pariwisata dilaksanakan di tiga titik di antaranya Terminal Semin, Rest Area Bunder dan Terminal Dhaksinarga di Kota Wonosari.

Sementara itu, Sekretaris Dispar Kabupaten Gunungkidul Harry Sukmono mengatakan, skema ganjil-genap diterapkan untuk mengurangi kepadatan di lokasi wisata. Sesuai Inmendagri kapasitas tiap lokasi wisata dibatasi maksimal hanya 25 persen.”Teknis di lapangan bekerjasama dengan Satlantas Polres Gunungkidul dan Dishub (Dinas Perhubungan),” kata Harry Sukmono.

Sebelumnya, Koordinator TPR Baron Heri Mulyono mengatakan, khusus bus pariwisata petugas masuk ke dalam bus dan langsung meminta penumpang memindai QR Code PeduliLindungi.”Akan sulit kalau penumpang harus turun, karena berpotensi memicu kemacetan panjang,” kata Heri Mulyono. (gun/pra)

Gunungkidul