RADAR JOGJA – Pemenuhan kebutuhan air di Gunungkidul masih menjadi masalah menahun. Forum Disabilitas Tangguh Bencana (FDTB) menjadi bagian dari komunitas yang peka dengan isu tersebut.

Mereka membuat kebun bibit atau Rumah Bibit Resan (RBR) menggandeng karang taruna dan Komunitas Resan di Gunungkidul. Targetnya melestarikan sumber air di zona utara salah satunya, wilayah Nglipar Kidul, Kapanewon Nglipar.

“Kami bersinergi dengan Karang Taruna Bagus Panuntun Padukuhan Nglipar Kidul, dan Komunitas Resan Gunungkidul,” kata Ketua FDTB Hardiyo belum lama ini.

Pria berusia 60 tahun itu mengatakan, bencana tidak hanya identik dengan banjir, tanah longsor, gempa bumi, atau yang lainnya, tapi juga termasuk kekeringan dan konflik sosial soal air. Untuk kepentingan tersebut, komunitasnya menfasilitasi tempat bagi karang taruna agar dimanfaatkan sebagai kebun bibit.

“Harapannya edukasi mencintai lingkungan akan tertanam sejak dini. Kemudian generasi penerus bersedia menjaga alam, menjaga lingkungan,” ujarnya.

Dengan keterbatasan fisik yang dimiliki, komunitas penyandang disabilitas berusaha men-support berbagai kegiatan yang bersifat antisipasi bencana. Salah satunya membantu upaya ketersediaan air dengan cara alami. “Kedepan memang harus ada langkah antisipasi yang bersifat jangka panjang,” ucapnya.
Menurutnya, sekarang memasuki tahap pembuatan kebun bibit dan persiapan agenda penanaman pohon, sebagai upaya untuk melestarikan sumber air yang ada di Kapanewon Nglipar. Pembuatan kebun bibit melibatkan puluhan pemuda dari Karang Taruna Bagus Panuntun. “Menanam sekitar 250 bibit pohon,” ungkapnya.

Sementara itu, anggota Karang Taruna Bagus Panuntun, Nglipar Kidul Agung, 25, mengatakan, wilayahnya termasuk daerah kaya sumber air. Hampir setiap padukuhan atau kalurahan mempunyai lebih dari lima sampai sepuluh sumber air. “Akan tetapi sumber air yang masih digunakan atau masih hidup bisa dihitung dengan jari,” kata Agung.

Hasil survey di lapangan beberapa tempat banyak menemukan sumber sumber air sebetulnya masih hidup, tapi terbengkelai dan tertutup. Masyarakat lebih memilih memenuhi kebutuhan air dengan PAM, karena lebih praktis. Akibatnya sumber air yang dulunya biasa digunakan tidak terawat. “Padahal jika masyarakat peduli dengan sumber-sumber air, masih memungkinkan dimanfaatkan untuk banyak hal, misalnya untuk perikanan atau pertanian,” bebernya. (gun/bah)

Gunungkidul