RADAR JOGJA – Kemarau basah tahun ini diprediksi mempengauhi hasil produksi pertanian. Mempu menekan biaya produksi, sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk kebutuhan air.

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, kemarau basah membantu mengurangi biaya produksi pertanian dalam hal pengadaan air. Hingga sekarang belum ada laporan kerusakan tanaman.“Saat ini padi sudah memasuki musim tanam ketiga pada lahan basah atau sawah,” kata Raharjo Yuwono saat dihubungi Senin (9/8).

Dia menjelaskan, area padi lahan basah mencapai 431 hektare (ha), sedangkan padi lahan kering nihil. Kemudian jagung 897 ha, kedelai 911 ha, kacang tanah 898 ha, dan kacang hijau 207 ha. Sementara paling luas untuk penanaman ubi kayu, mencapai 44.025 ha.“Mengacu pada informasi dari BMKG, kemarau kali ini mengalami anomali. Penyebabnya adalah suhu permukaan air laut yang hangat sehingga memicu terbentuknya awan hujan.,” ungkapnya.

Pihaknya mengimbau kepada para petani khususnya holtikultura untuk melakukan pencegahan dan pengendalian hama. Dikatakan,anomali sifatnya hanya sementara sehingga perlu pengamatan rutin.

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta, Reni Kraningtyas memperkirakan anomali cuaca ini akan berlangsung hingga September 2021. Sifat hujan juga disebut di atas kondisi normal.“Membuat kondisi musim kemarau tahun ini cenderung lebih basah,” kata Reni Kraningtyas.

Pihaknya mengimbau seluruh pemerintah daerah hingga masyarakat untuk memperhatikan situasi hingga perkembangan cuaca ke depan. Terutama dampaknya pada sektor pertanian, sehingga perlu dijadikan pertimbangan kebijakan. (gun/pra)

Gunungkidul