RADAR JOGJA – Lima pemuda warga dua kapanewon berurusan dengan polisi. Mereka terlibat dalam bisnis obat-obatan terlarang. Pil itu dibeli secara online, lalu dijual eceran.
Kelima tersangka masing-masing berinisial AG,25 ; AM,22; EH,21 ; EG,25 dan AS,21. Empat tersangka warga Kalurahan Pengkol, Kapanewon Nglipar, sementara satu tersangka warga Kalurahan Sambirejo, Kapanewon Ngawen.

Kasat Reskoba Polres Gunungkidul, AKP Dwi Astuti Handayani mengatakan, kasus tersebut terungkap akhir pekan lalu. Total dari tangan pelaku, polisi berhasil mengamankan 3.000 butir pil koplo sebagai barang bukti.

“Awal pengungkapan kasus, anggota menerima informasi bahwa di Pengkol sering digunakan untuk transaksi obat berbahaya. Kemudian dilakukan penyelidikan,” kata Dwi Astuti Handayani Rabu (28/7).

Sehari kemudian atau 25 Juli 2021, petugas melakukan penggerebekan dan mengamankan empat pemuda. Dari hasil ungkap kasus tersebut polisi mengamankan inisial AS warga Sambirejo, Ngawen.

Hasil pemeriksaaan awal kelima tersangka berkecimpung di peredaran obat-obatan terlarang sejak satu tahun terakhir. Sebanyak 1.000 butir pil dibeli seharga Rp 400 ribu.

Kasubag Humas Polres Gunungkidul, Iptu Suryanto mengatakan, target pasar penjualan pil koplo tersangka adalah golongan ekonomi menengah kebawah. Paket pil dijual dengan harga kisaran puluhan ribu. “Kami imbau kepada masyarakat untuk menjauhi obat-obatan terlarang, karena efeknya membahayakan kesehatan,” kata Suryanto.

Akibat perbuatannya, kelima tersanga dijerat Pasal 60 ayat 10 Undang-Undang No.11/2020 tentang Cipta Kerja dan Pasal 197 juncto Pasal 106 Undang-Undang No.36/2009 tentang Kesehatan atau Pasal 196 juncto Pasal 198 ayat 2 dan 3. Ancaman hukumannya paling lama 15 tahun penjara. (gun/bah)

Gunungkidul