RADAR JOGJA – Kemampuan desain grafis Wahyu Agung Nugraha tidak diragukan. Pemuda asal Gunungkidul yang akrab disapa Agung Badak ini bisa mengelola keterampilan di masa pandemi. Skill desain grafisnya diminati orang-orang mancanegara. Mulai Benua Eropa hingga Amerika.

Coretan adalah cara menuangkan inspirasi. Bagi Wahyu Agung Nugraha, 32, skill desain grafisnya berawal saat masa abu-abu putih. Alumnus SMAN 2 Wonosari ini jadi ingat suka iseng menggambar di kertas ketika sekolah.

Berawal dari hobi menggambar, warga Padukuhan Bansari, Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari, itu jadi desainer grafis.  Sekarang setiap hari melayani kliennya dari berbagai negara, tanpa perlu keluar rumah. Dia lebih dulu terbiasa di rumah sebelum muncul kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Jebolan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu kemudian menunjukkan ruang kerjanya. Memanfaatkan garasi yang disulap jadi ruang ternyaman.  Nampak terpajang beberapa hasil karya seperti poster hingga papan skateboard.

Lalu hobi diarahkan untuk mengenal aplikasi photoshop. Bermodalkan komputer jinjing pinjam teman SMA, mulai bisa menggunakan aplikasi tersebut. Berlanjut ikut study tour ke Bali. Niat menjadi desain grafis kian meninggi. “Sama ibu minta tolong dibelikan laptop,” ucapnya nampak mengenang.

Tidak sampai di situ kemampuannya terus diasah. Pada zaman kuliah makin dekat dengan ilmu desain grafis. Selain mencari ilmu di kampus, juga tidak segan praktek langsung bersama teman. Hasil karya berupa gambar diunggah ke media sosial.

“Saat itu di Facebook ada warga negara Prancis kirim in box (mengirim pesan melalui Facebook, Red) mau beli desain saya. Itu tahun 2016,” ungkapnya.

Sejak saat itulah karyanya mulai dikenal oleh orang-orang dari berbagai negara. Mulai Asia, Eropa, hingga Benua Amerika. Setiap hari banyak pesan masuk. Bapak satu anak ini kerepotan dan terpaksa meninggalkan bangku kuliah, meski tinggal skripsi.

Disinggung mengenai harga setiap desainnya, Agung tidak menyampaikan secara rinci. Tergantung tingkat kerumitan. Macam-macam media gambarnya. Mulai dari papan skateboard, kaos, hingga stiker. “Kisaran jutaan rupiah setiap desain. Paling banyak gambar tengkorak,” bebernya.

Merkea tertarik gaya gambar desain tengkorak. Namun Agung tak membatasi diri, tergantung permintaan klien. Satu desain biasanya membutuhkan waktu pengerjaan dua sampai tiga hari. Diakui, sempat merasakan dampak pandemi Covid-19.

“Tapi hanya beberapa pekan. Setelah itu orderan datang kembali. Setiap bulan menyelesaikan 12 sampai 15 desain.  Semuanya saya kirim ke luar negeri,” ujarnya.

Pria kelahiran Semanu ini semula tidak menyangka di rumah saja bisa menghasilkan rupiah dan mampu mencukupi keluarga. Meski bidang pekerjaannya ‘tidak diakui’ oleh masyarakat, terbukti hasilnya menjanjikan.

“Kalau ditanya pekerjaanmu apa, paling saya jawab ngalamun sambil menghadap tembok. Lama-lama juga paham. Kalau tanya, ya saya jelaskan,” ucapnya sambil tertawa. (laz)

Gunungkidul