Radar Jogja – Jumlah warga terdampak kekeringan di Gunungkidul terus bertambah. Sejauh ini sudah ada puluhan ribu warga menunggu bantuan dropping air dari pemerintah setempat.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul, wilayah paling parah terdampak musim kemarau adalah Kapanewon Tepus. Wilayah ini terdiri dari 5 kalurahan, 64 padukuhan, 232 RT, 7.283 KK dan 28.292 jiwa.

Kemudian Kapanewon Tanjungsari jumlah warga terdampak 20.071 jiwa, Panggang 18.379 jiwa, Paliyan 12.264 jiwa, Girisubo, 5879 jiwa, Semin 3.364 jiwa, Rongkop 3.209 jiwa, Saptosari 1.014 jiwa, dan Kapanewon Patuk 106 jiwa. “Total wilayah terdampak di Gunungkidl terdiri dari 40 kalurahan, 307 padukuhan, 716 RT dan 26.067 kepala keluarga (KK),” kata Kepala BPBD KAbupaten Gunungkidul, Edy Basuki kemarin (6/7).

Agenda dropping terdekat, meliputi Kapanewon Semin, Tanjungsari, dan Girisubo. Titik penyerahan bantuan langsung ke RT masing-masing wilayah. Disinggung mengenai anggaran, tahun ini mengalokasikan sekitar Rp 700 juta. Sebanyak enam armada tangki pengangkut air telah disiapkan. Karena dana dropping sama dengan tahun lalu, diharapkan bisa mencukupi. “Pengalaman tahun lalu, dari 18 kapanewon, hanya tiga wilayah meliputi Semin, Playen dan Karangmojo yang tidak mengajukan bantuan air ke BPBD,” ungkapnya.

Sementara itu, Lurah Ngloro Kapanewon Saptosari, Heri Yuliyanto mengakui, hujan kiriman bulan lalu sedikit banyak membuat bak penampungan air warga terisi. Karena belakangan sudah tidak turun hujan, selain menunggu bantuan pemerintah juga harus beli secara mandiri.

“Satu tangki Rp 150 ribu rupiah sampai dengan Rp 175 ribu rupiah, tergantung lokasi,” kata Heri Yulisanto. (gun/bah)

Gunungkidul