RADAR JOGJA – Muhammad Nasir dan istrinya Eni Nurhayati seakan masih tak percaya jika keponakannya jadi korban kecelakaan laut di Gunungkidul. Ya, Muhamad Rois Chaq, tergulung ombak di pantai selatan bersama temannya, Derbita Nadifa Shafira, 19, asal Sukoharjo, Jateng.

WINDA ATIKA IRA PUSPITA, Jogja, Radar Jogja

Sempat mengasuh sejak usia TK, Muhammad Nasir mengatakan, kabar kecelakaan yang menimpa keponakannya diterima pada hari yang sama sesaat kejadian dari Tim SAR yang mendatangi alamat rumah korban atas nama Muhamad Rois Chaq.

“Kaget, nggak menyangka. Sampai sekarang saja saya nggak percaya kok, soalnya hampir tidak pernah ketemu. Kecilnya sama kita, ketika bapaknya nikah lagi dibawa bapaknya ikut tinggal bersama,” kata Nasir saat ditemui di rumahnya, Jalan Sorogenen, Sorosutan, Umbulharjo, Jogja, Selasa (1/6).

Adik dari mendiang ibu korban itu menjelaskan, saat Rois kecil sampai usia TK pernah tinggal dalam satu rumah di Nitikan, UH/6/330 RT 49/13, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja. Namun ketika ayah korban menikah lagi setelah ibu kandungnya meninggal akibat sakit kronis, Rois lantas ikut bersama ayahnya tinggal di Muntilan, Kabupaten Magelang.

“Lahirnya di sini, Nitikan. Ketika TK, ibunya meninggal. Hanya kan ayahnya nikah lagi dan tinggal di Muntilan, ke istri muda. Rois ikut ke sana sejak usia TK,” ungkap Nasir.

Sebelum peristiwa kecelakaan itu, korban yang merupakan anak kedua dari dua bersaudara itu, hanya izin ke kakak perempuannya akan pergi berkemah. Korban tidak menyampaikan informasi secara lengkap di mana lokasi tujuan untuk berkemah itu. “Cuman WA sama kakaknya mau kemping. Nggak cerita mau kemah ke mana, nggak tahu,” jelasnya.

Rois dikatakan baru saja diterima menjadi mahasiswa Teknik Sipil UNS Solo. Menjelang masuk kuliah, korban tergabung dalam organisasi Mapala. Tujuan berkemah di Pantai Ngluwen itu ternyata baru survei, belum acara inti berkemah.

Rois menjadi bagian tim survei berjumlah enam orang, terdiri atas empat laki-laki dan dua perempuan yang berangkat ke Pantai Ngluwen. “Mungkin anak-anak muda kurang koordinasi, izinnya ke keluarga nyepelekke. Datangnya ke sana aja jam 12 malam,” tandasnya.

Dimungkinkan, sebagai orang tua terlalu percaya terhadap anaknya yang dinilai sejak SMA sampai saat ini terlalu mandiri. Terlebih, ayah korban berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Jogja, yang memiliki rutinitas padat.

“Karena Rois juga terbiasa mandiri, jadi mungkin orang tuanya terlalu percaya dengan anaknya. Kemarin orang tuanya juga bilang, kalau tahu mau ke Ngluwen, ya dlarang. Pamitnya cuma kemping sama kakaknya. Nggak tahu kamping di mana,” sambungnya dari cerita orang tua korban.

Laki-laki 53 tahun itu menyebut, Rois dikenal sebagai anak penurut. Sangat dekat dengan ibu sambungnya saat ini. Banyak prestasi yang diperoleh, terutama dalam kegiatan keagamaan. Sejak SMA dimasukkan ke Pondok Pesantren Tahfidz Quran Karangkajen, Kota Jogja. “Rois anaknya sholeh, aktif ikut kegiatan agama,” tambahnya.

Eni Nurhayati, istri Muhammad Nasir menambahkan, terakhir bertemu korban menjelang Idul Fitri. Korban mengambil paket kiriman buku ke tempat bibinya itu. Namun hanya sebentar, karena korban hendak langsung pulang ke Muntilan.

“Kemarin belum lama ketemu saya tanya kok rambutmu panjang to le. Saya ikut mapala e Bu Eni. Lho kaget saya to, kok tiba-tiba ikut Mapala. Nggak tahu infonya,” cetus Eni menirukan ucapan korban.

Mewakili keluarga korban, ia mengharapkan yang terbaik untuk keponakannya Rois. Terpenting, jasad korban bisa ditemukan sehingga keluarga bisa melihatnya saat terakhir. “Kami berharap meski nggak bisa diselamatkan, tapi jasadnya segera ditemukan,” harapnya. (laz)

Gunungkidul