RADAR JOGJA – Penerapan sistem elektronik atau e-Tiketing di tempat wisata sejauh ini masih sepi peminat. Para wisatawan masih banyak yang belum mengerti bagaimana cara memesan tiket wisata secara online.

Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Gunungkidul, Hary Sukmono mengakui sistem e-tiketing masih kurang diminati wisatawan. Metode pembayaran tiket wisata non tunai sendiri dilounching akhir Januari 2021 di Tempat Retribusi (TPR) Baron.“Kemudian saat ini sudah ada lima titik tambahan layanan e-ticketing. Masing-masing Nglanggeran, Gua Kalisuci, TPR JJLS, Telaga Jonge, dan Gunung Ireng,” kata Hary Sukmono saat dihubungi Minggu (9/5).

Hanya diakui minat wisatawan dalam memanfaatkan metode non tunai masih sangat minim. Hal tersebut yang menjadi PR bagi pemerintah untuk bisa disikapi. Berdasarkan data, pada Mei wisatawan menggunakan pembayaran non tunai bisa dihitung dengan jari. “Per 20 April sampai 26 April 8 orang yang memanfaatkan e-tiketing,” ujarnya.

Rinciannya tujuh orang lewat jalur TPR Baron dan Satu orang lainnya via JJLS. Padahal, setiap akhir pekan bisa tembus 1.000 lebih pengunjung. Karena perbandingannya mencolok, ke depan akan terus dimaksimalkan.“Akan kami gencarkan sosialisasi kepada masyarakat baik menggunakan media sosialisasi agar bisa dijangkau luas maupun dengan cara-cara lain,” ungkapnya.

Disinggung mengenai tekhnis e-tiketing, ada beberapa cara. Bisa melalui aplikasi glvisiting jogja, di TPR langsung scan barcode (pembayarannya dapat dilakukan melalui ovo, gopay, dana ataupun lainnya). Ataumelalui aplikasi QUAT dari BPD DIJ.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul Sunaryanta berharap, layanan e-Ticketing tidak hanya meningkat dari sisi kuantitas, tapi juga kualitas. Kemampuan dari Sumber Daya Manusia (SDM) perlu ditingkatkan agar penerapan sistem pembayaran non tunai lebih optimal.“Sehebat apapun teknologinya tapi kalau SDMnya kurang tentu sama saja. Jadi perlu ada peningkatan kapasitas,” kata Sunaryanta. (gun/pra)

Gunungkidul