RADAR JOGJA – Masih masuk musim pancaroba. Tapi sudah sepekan lebih hujan menghilang dari Bumi Handayani. Warga yang tinggal di wilayah kekeringan mulai ramai-ramai membeli air tangki milik swasta. Jarak tempuh lokasi pengiriman mempengaruhi harga jual.

Wilayah Kapanewon Grisisubo misalnya. Selama ini dikenal langganan kekurangan air bersih. Mereka hanya mengandalkan air hujan yang ditampung ke dalam bak ukuran tertentu di samping rumah. Jelang musim kemarau seperti sekarang warganya mulai terdampak.

Harus menyisihkan uang untuk belanja air bersih untuk memenuhi kebutuhan harian. Kisaran harga air dari swasta variatif. Wilayah sekitar Kapanewon Girisubo tepatnya Kalurahan Pucung, harganya paling murah, yakni kisaran Rp 90 ribu-100 ribu per tangki. Sedangkan Kalurahan Tileng bisa mencapai Rp 120 ribu sekali pengiriman. Harga pengiriman termahal di wilayah Songbanyu tepatnya Putat, Selang, Joho dan Gesik dengan harga Rp 200 ribu per tangki.“Kami memaklumi (perbedaan harga) karena jauh dekat lokasi. Terkadang lokasi pengiriman juga ekstrem,” kata suplayer air bersih wilayah Girisubo, Sakiran sat dihubungi Senin (3/5).

Sementara itu, Panewu Anom Girisubo, Arif Yahya mengaku akan koordinasi dengan kalurahan untuk mengetahui dan mendata warga terdampak kekeringan. Meski belum ada laporan resmi warga terdampak namun sudah ada armada pengangkut air beroperasi.“Girisubo minim sumber air. Saat kemarau sering mengalami krisis air bersih,” kata Arif Yahya.

Menurut dia, wilayahnya termasuk zona rawan kekurangan air bersih. Tahun lalusekitar 60 padukuhan di delapan kalurahan minta bantuan droping air. Eksekusi bantuan dilaksanakan kapanewon dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul.

Kejadian serupa juga dialami sebagian warga di wilayah Kapnaewon Patuk. Lebih dari dua pekan tidak turun hujan. Akibatnya para petani mulai khawatir tanaman padi terancam gagal panen.“Sekarang saja pertumbuhan tanaman mulai terganggu. Batang keriting terlihat tidak sehat,” kata seorang petani Sunardi. (gun/pra)

Gunungkidul