RADAR JOGJA- Permasalahan internal RSUD Wonosari kembali muncul ke ranah publik. Ujung pangkalnya ada di pembagian rupiah jasa pelayanan (japel) yang dinilai tak adil, bahkan diduga melanggar peraturan direktur (perdir) maupun peraturan bupati (perbup).

Berdasarkan keterangan sejumlah pegawai RSUD Wonosari, pembagian jasa pelayanan antara medis dan paramedis tidak proposional. Contoh kasus terbaru dalam penanganan pasien Covid-19. Meski semua tenaga kesehatan terkena imbas dalam fungsi pelayanan, namun tidak diikuti dengan pendapatan.
“Namun kalau ada yang vokal bertanya ke managemen, sanksinya langsung dimutasi tanpa klarifikasi,” kata seorang paramedis yang enggan namanya dikorankan¬† Sabtu (27/3).

Dia berharap kepada bupati baru agar dapat membawa kebaikan khususnya di RSUD Wonosari. Selain itu kepala daerah juga dapat memberikan rasa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia pada umumnya.

Dengan demikian fungsi pelayanan dapat berjalan lebih optimal dan tingkat kepuasan masyarakat meningkat.”Semoga jasa pelayanan kembali membaik, karena selama ini penurunan lumayan kroso (cukup terasa),” ungkapnya.

Sementara itu kasus serupa mengenai kisruh japel pernah mencuat di 2019. Petugas medis Ari Hermawan pernah berseteru dengan managemen RSUD Wonosari. Namun protesnya berujung pada pemindahan lokasi kedinasan. Dia dimutasi ke Puskesmas Tanjungsari. Surat Keputusan (SK) mutasinya diyakini juga bermasalah.

“Saya mengharap kepada bapak bupati sebagai pemilik RSUD yang baru dapat menyelesaikan persoalan ini agar menjadi terang benderang,” kata Ari Hermawan.

Menurut dia, permasalahan yang ada harus di perjuangkan, karena dalam perkembangan pihaknya justru menjadi kambing hitam. Ari memohon kepada bupati agar melakukan audit menyeluruh terkait japel, dengan menggunakan auditor external.

“Semua hal tersebut diatas saya usulkan agar persoalan tersebut tidak menjadi ‘hutang’ yang tidak terlunasi dan info-info diluar yang menyatakan saya yang bermasalah juga menjadi clear,” ucapnya.

Dalam perkara ini menurutnya patut diduga ada suatu sistem yang salah di dalam manajemen RSUD. Besar harapan kasus japel menjadi terang benderang dan terselesaikan.

Terpisah, Direktur Utama (Dirut) RSUD Wonosari, Heru Sulistyowati ketika dihubungi memilih irit bicara. Dia memastikan bersedia memberikan penjelasan pada waktu yang tepat. “Supaya tidak salah presepsi ,” katanya (sce/gun/pra/sky)

Gunungkidul