RADAR JOGJA – Sejumlah permasalahan membelit petani garam di Gunungkidul. Selain peralatan rusak, pandemi Covid-19 juga berimbas pada lesunya penjualan. Melihat kondisi tersebut mereka pun alih profesi menjadi buruh bangunan.

Petani garam yang berhenti berproduksi berada di kawasan Pantai Dadapayam Gebang, Dadapayu, Saptosari dan Sepanjang Kemadang, Tanjungsari. Sebelum banting setir, warga di dua wilayah tersebut cukup produktif memproduksi garam.

Ketua Kelompok Petani Garam Dadap Makmur Pantai Dadapayam, Triyono menyebut sejak tahun lalu tak lagi memproduksi garam, disebabkan kendala yang cukup kompleks. Selain kerusakan mesin pompa pengangkat air laut ke lokasi budidaya, angin kencang merusak terpal pelastik pelindung petak-petak yang digunakan lokasi budidaya. “Awalnya rusak mesin pompa, tapi karena tidak ada aktivitas produksi terpal ikut rusak,” kata Triyono saat dihubungi Senin (15/3).

Diungkapkan, persoalan kerusakan peralatan telah direspon baik oleh pemerintah. Kelompok, telah mendapatkan bantuan bantuan mesin pompa dan terpal. Kini anggota kelompok bersiap kerja bakti menghidupkan kembali budidaya garam. “Kami menargetkan awal April kembali beroperasi,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, sebelum berhenti beroperasi setiap bulan bisa menghasilkan delapan kuintal garam. Namun harga per kilogram dianggap rendah karena hanya laku Rp 3 ribu. Ke depan, pihaknya berharap perubahan harga sehingga ada keuntungan lebih.

Kondisi serupa juga dialami petani garam di Pantai Sepanjang, Kalurahan Kemadang, Tanjungsari. Ketua Kelompok Budidaya Garam setempat, Winarto mengatakan, berhenti produksi belum lama. “Awal pandemi covid masih produksi garam, tapi belakangan kami berhenti beroperasi ,” kata Winarto.

Pihaknya optimistis prospek bisnis usaha budidaya garam masih menjanjikan. Oleh sebab itu setelah sarana dan prasarana diperbaiki produksi akan kembali dimulai. Bahkan dalam waktu dekat sudah mengagendakan kerja bakti.
Untuk diketahui, garam produksi lokal Gunungkidul berkualitas premium.

Sebagai upaya membantu kelancaran pemasaran produksi, pemkab setempat mewacanakan pegawai negeri sipil (PNS) wajib membeli garam produksi lokal.
“Harapan kami produksi garam Gunungkidul juga diterima pasar secara luas,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikana (DKP) Kabupaten Gunungkidul, Krisna Berlian. (gun/bah)

Gunungkidul