RADAR JOGJA – Satu rumah di wilayah Kapanewon Rongkop mengalami tanah ambles. Amblesan tanah membentuk lobang memanjang dari dinding pondasi sampai ke dalam rumah utama.

Kejadian tersebut berlangsung Selasa (12/1) malam. Pemilik rumah Sukamto, 65, warga Padukuhan Saban, Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Rongkop. Panjang amblesan tanah sekitar 4 meter dengan lebar 4 meter, dengan kedalaman mencapai 6 meter.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul Edy Basuki mengatakan, petugas sudah mendatangi lokasi. Informasi awal, diduga peristiwa tersebut dipicu struktur tanah labil. “Jadi, ini rumah bangunan baru,” kata Edy Basuki saat dihubungi Rabu(13/1).

Pemilik rumah sebelumnya terkena gusuran pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). Kemudian pindah tempat dan membangun rumah baru namun pada Selasa malam mendengar gemuruh. “Pemiliknya mengecek sumber gemuruh ternyata di samping rumah mepet dinding tanah sudah amblas,” ujarnya.

Meksi belum ada kepastian penyebab tanah amblas, kuat dugaan struktur tanah perbukitan karst diketahui memang banyak lubang.
BPBD sendiri masih menunggu perkembangan, apakah relokasi atau solusi lain. “Informasinya sudah diuruk tanah enam truk namun belum penuh (bekas lobang tanah ambles),” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Gunungkidul, Endah Subekti Kuntarinigsih menyoroti besaran nominal pemberian dana stimulan bagi warga terdampak bencana longsor dan banjir dirasa kurang maksimal. “Kami meminta Pemkab Gunungkidul memastikan dan meningkatkan besaran bantuan stimulan mengingat tingginya potensi bencana,” kata Endah.

Menurutnya, hal ini menjadi salah satu poin rekomendasi hasil pengawasan DPRD terhadap peraturan daerah tentang anggaran pendapatan belanja daerah tahun anggaran 2020 triwulan IV.

“Besaran nominal yang ada sekarang dinilai belum maksimal, padahal rawan bencana seperti longsor, banjir, angin kencang dan gempa bumi sewaktu-waktu bisa mengancam,” ujanrya. (gun/bah)

Gunungkidul