RADAR JOGJA – Pembelajaran jarak jauh selama masa pandemi Covid-19 ini menjadi dilema bagi pendidik di Gunungkidul. Karena tanpa pengawasan langsung guru, berisiko meningkatkan anak putus sekolah. Bahkan bisa menjadi pekerja di bawah umur.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunungkidul, tren angka putus sekolah menurun namun grafiknya masih tinggi. Lama sekolah anak di Gunungkidul masih di angka delapan tahun tiga bulan. Artinya, penduduk usia di atas 25 tahun lama pendidikan hanya delapan tahun lebih tiga bulan.

Pada tingkat Sekolah Dasar (SD), dari total 57 ribu siswa, 0,03 persennya atau sebanyak 17 anak putus sekolah. Kemudian untuk SMP dari 23 ribu siswa, sebanyak 18 diantaranya tidak meneruskan pendidikan. Lalu pada tingkatan SMA sederajat, dari jumlah keseluruhan 27 ribu siswa,lima anak di antaranya juga putus sekolah atau prosentasenya 0,02 persen.

Disinyalir, faktor ekonomi menjadi penyebab anak usia sekolah enggan melanjutkan jenjang pendidikan. Namun semenjak ada program beasiswa, Program Indonesia Pintar (PIP), dan Program Keluarga Harapan (PKH) terjadi penurunan angka putus sekolah.

“Namun dimasa pandemi Covid-19 kami menerima laporan banyak anak bekerja,” kata Kepala Bidang (Kabid) SMP Disdikpora Kabupaten Gunungkidul, Kiswara saat dihubungi kemarin (5/1).
Diakui, informasi tersebut memang perlu dikroscek untuk diketahui kebenarannya. Jangan sampai anak-anak sibuk bekerja lalu lupa dengan tugas sekolah. Pihaknya menerima informasi anak di bawah umur usia SMP sederajat sibuk mencair uang. “Jangan sampai ini kebablasan, terutama anak-anak kelas III,” ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris Lembaga Orang Tua Asuh Gunungkidul, CB Supriyanto mengatakan, fenomena pelajar bekerja di tengah kebijakan sekolah daring tidak akan berlangsung lama. Bisa dimaklumi sejak pandemi kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka dibatasi bahkan sempat dihentikan.“Karena tidak ada aktifitas ya jenuh, sehingga melakukan pekerjaan apa yang bisa dilakukan,” kata CB Suprianto.

Menurut dia, perlu digaris bawahi, pemerintah hendaknya segera mengambil kebijakan tepat menyangkut keberlangsungan dunia pendidikan. Di awal ada wacana sekolah tatap muka namun belakangan ditunda.“Kalau anak terus dibiarkan dan cul (dilepas) begitu saja hanya belajar daring ya buneg (bosan). Ujung-ujungnnya kalau enggak bekerja ya dolan (main),” terangnya.

Mantan Kepala Humas Protokol Pemkab Gunungkidul ini mengingatkan kepada pemerintah sekarang agar tidak menyepelekan persoalan ini. Dia memahami virus korona merupakan ancaman kesehatan. “Namun jika protokol kesehatan diperketat dan anak bisa belajar tatap muka itu baik. Kalau bisanya satu hari masuk sekolah 10 anak ya masuk. Jangan sama sekali tidak sekolah tatap muka,” ucapnya. (gun/pra)

Boleh Berpenghasilan, tapi Jangan Lupa Belajar

Aplikasi TikTok maupun Youtube sangat dekat dengan keseharian siswa saat ini. Bahkan tak sedikit yang kemudian berkeinginan, atau sudah, menjadi Youtuber saat ini.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunungkidul Eddy Praptono memaklumi. Oleh sebab itu dia membuka pintu bagi orang tua untuk memantik kreatifitas anak. Misalnya, di zaman sekarang anak cukup familiar dengan media sosial (medsos). Tidak sedikit dari mereka berpenghasilan, dari Youtube misalnya. Nah, dari sinilah orang tua harus hadir untuk mengarahkan. “Anak menjadi Youtuber itu bagian dari kreatifitas, yang penting jangan sampai lupa dengan ketugasan (sebagai pelajar),” tegasnya kemarin (6/1).

Menurut dia, di masa pandemi Covid-19 dunia pendidikan sedang beradaptasi dengan kebiasaan baru. Jika sebelumnya pembelajaran tatap muka, sekarang bergeser ke pembelajaran virtual atau daring menggunakan media internet.“Selalu ada plus minus dari dua metode tersebut, baik tatap muka maupun belajar daring,” kata Eddy.

Namun pihaknya lebih fokus menuju arah nilai positif. Tentu langkah selanjutnya diperlukan sinergitas bersama antara lembaga pendidikan, orang tua dalam mendukung pendidikan anak. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka memang dibutuhkan. Bahkan beberapa waktu lalu sempat mengeluarkan SE (Surat Edaran) belajar tatap muka. “Namun kemudian ditunda karena sejumlah pertimbangan,” ujarnya.

Bagaimana dengan kasus anak putus sekolah? Menurut dia, solusinya ada dua. Pertama disarankan mengikuti kejar paket dan kedua diminta untuk meneruskan pendidikannya. Jika tidak memungkinkan bisa memperoleh formal ijazah pengujian kejar paket mandiri.

Sementara itu, seorang warga Wonosari, Adhitya Putratama mengakui di masa pandemi harus putar otak. Jangan hanya berpangku tangan, terutama orang tua yang bekerja di sektor informal. Dia mengakui, aktif di dunia medsos membawa berkah bagi keluarganya. Bahkan, anak semata wayangnya sekarang sudah berpenghasilan dari Youtube, karena akun telah dimonetesasi. “Anak saya masih PAUD. Kami sebagai orang tua hanya mengarahkan sesuai keinginan tidak pernah memaksa,” kata Adhitya. (gun/pra)

Gunungkidul