RADAR JOGJA – Selama pandemi Covid-19 tren pernikahan anak bawah umur di Gunungkidul melonjak tajam. Berdasarkan data Pengadilan Agama (PA) Wonosari, kenaikan mencapai 100 persen.

“Dispensasi nikah diajukan selama 2020 mencapai 231 perkara,” kata Panitera PA Wonosari, Mokhamad Udiyono saat dihubungi Selasa (5/1).

Pada tahun sebelumnya, dispensasi nikah sebanyak 108 perkara. Menurutnya, perubahan aturan batas minimal umur menikah jadi salah satu penyebab utama nikah dini. “Tercatat dispensasi tertinggi terjadi pada bulan Juli dengan 41 perkara,” ujarnya.

Dikatakan, perubahan undang-undang tentang perkawinan mengenai batas minimal umur menikah, sekarang dinaikkan. Syarat menikah batas minimal berumur 19 tahun, baik bagi laki-laki dan perempuan. Sebelumnya pada UU Nomor 1/1974 disebutkan syarat umur minimal menikah 16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki. Ketentuan itu lantas diubah lewat UU Nomor 16/2019.

“Pengajuan dispensasi nikah didominasi pelajar. Pengajuan dikabulkan oleh hakim lantaran berbagai pertimbangan, salah satunya kehamilan yang tidak diinginkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, DP3AKBPMD Gunungkidul, Rumi Hayati mengatakan, terjadi perubahan tren penyebab dari pernikahan dini. Dulu karena faktor orang tua berharap anak segera menikah, sekarang anak salah pergaulan.

“Kondisi demikian menyebabkan tingginya angka kematian bayi baru lahir. Secara fisik dan mental perempuan remaja belum siap untuk mengandung,” ujarnya.

Menurutnya, kekerasan seksual juga menjadi faktor penyebab pernikahan din. Dalam catatannya sampai dengan November 2020, ada 28 laporan kekerasan seksual, didominasi perempuan sebagai korban. ”Tidak menutup kemungkinan ada kasus serupa namun sengaja ditutupi karena tidak berani melapor,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawati mengatakan, nikah usia dini memicu stunting (bayi kerdil). Upaya pemerintah melalui program ‘Ayunda Si Menik Sego Ceting’ atau kepanjangan dari ayo tunda usia menikah mengawali gerakan semangat gotong royong cegah stunting. “Kami bersyukur kasus bayi stunting berkurang signifikan,” kata Dewi. (gun/bah)

Gunungkidul