RADAR JOGJA – Setelah berhasil mempertahankan status geopark dunia, pengelola Gunung Sewu mulai mengatur langkah. Ke depan, diharapkan dapat lebih memberikan nilai tambah dalam pengelolaan kawasan, termasuk di dalamnya pembangunan kepariwisataan.

Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Gunungkidul, Hary Sukmono mengatakan, Gunung Sewu membentang dari Kabupaten Gunungkidul, Jogjakarta, Pacitan, Jawa Timur dan Wonogiri, Jawa Tengah. Wilayah tersebut tercatat sebagai anggota UNESCO Global Geopark (UGG). Predikat itu diperoleh melalui hasil simposium Asian Pacific Global Network (APGN) di Rinjani Lombok 2-6 September 2019.

“Geopark itu adalah untuk memberi nilai tambah dalam pengembangan kawasan sehingga ada nilai jual,” kata Hary Sukmono saat dihubungi Selasa (15/12).

Nilai jual suatu kawasan terkait pariwisata, kata dia, bagaimana pelibatan masyarakat yang ujungnya pendapatan, jumlah kunjungan dan belanja wisatawan. Hanya saja, pihaknya tidak tahu persentase kontribusi geopark terhadap kepariwisataan.

“Kalau dari angka kunjungan dan PAD sejak ditetapkan sebagai geopark relevan menunjukan korelasinya, ini tidak hanya di Gunungkidul saja, namun di wonogiri dan Pacitan,” ujarnya.

Namun demikian pihaknya tidak bisa menunjukkan persentase seberapa besar pengaruh geopark terhadap kunjungan maupun PAD. Alasannya, selama ini belum ada yang melakukan penenalitian terkait dengan korelasi tersebut. “Yang pasti geopark memberi nilai tambah atas potensi dalam satu kawasan, salah satunya nilai pembangunan pariwisata,” ucapnya.

Meski begitu, menurutnya geopark tidak bisa serta merta meberikan perubahan dratsis. Geopark tidak bisa memberikan rupiah langsung karena ada partisipasi masyarakat di dalamnya.

“Kami beri perumpamaan sebuah keris. Dengan diakui UNESCO apa ada nilai tambah untuk pemilik? Kemudian batik warisan dunia, apa ada nilai rupiah? namun ada nilai historis dan kesakralaran,” ungkapnya.

Dia menegaskan, geopark bukan pariwisata. Pariwisata bukan geopark. Namun geopark bisa menjadi destinasi pariwisa. Karena di dalamnya ada daya tarik potensi geopologi, budaya dan ini menjadi destinasi pariwisata.

Untuk memperkenalkan destinasi, diperlukan tenaga pemandu wisata yang akan memperkenalkan, mempromosikan, menjelaskan dan mengantar tamu dalam hal ini wisatawan untuk berkunjung ke Gunung Sewu.

“Nah, agenda tahun depan adalah penguatan SDM pengelola geosite dengan pelatihan-pelatihan geowisata,” ujarnya.

Ditanya mengenai dukungan anggaran pemerintah, menurutnya dari berbagai sumber. Mulai dari Kementrian Wisata, Kementerian ESDM, Bapennas, dari provinsi dan juga melalui APBD kabupaten. Hanya saja, karena pandemi APBD tahun depan dipangkas. “Untuk kewajiban iuran keanggotaan geopark sebesar 1500 uero atau sekitar Rp 25 juta per tahun,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) SMP Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunungkidul, Kiswara mengatakan, selama ini telah mengenalkan informasi tentang geopark kepada pelajar.

“Materi yang disajikan sebagai bentuk penyegaran ilmu bagi siswa mulai SD hingga SMA dan sederajat. Materinya disusun kalangan akademisi, sedangkan pengampunya guru di masing-masing lembaga pendidikan,” kata Kiswara. (gun/bah)

Gunungkidul