RADAR JOGJA – Pilkada tinggal menghitung hari. Namun sampai dengan saat ini masih ada ratusan anggota KPPS di Gunungkidul yang belum menjalani rapid test.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU Gunungkidul) Ahmadi Ruslan Hani mengatakan, rapid test merupakan prosedur rekruitmen Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KKPS). Namun hingga jelang masa pencoblosan, masih ada ratusan petugas belum mejalani tahapan protokol kesehatan Covid-19.“Sedikitnya 762 anggota KPPS belum menjalani rapid test untuk deteksi dini penularan virus korona,” kata Ahmadi Ruslan Hani saat dihubungi Jumat (2/12).

Karena menjadi kendala dalam tahapan pilkada, pihaknya langsung berkonsultasikan dengan KPU DIJ agar dicarikan solusi. Menurut dia, ada beberapa penyebab petugas belum menjalani rapid test.“Selain sibuk dengan pekerjaan sehari-hari, ada juga temuan petugas trauma dengan pelaksaaan tes,” ujarnya.

Dia mencontohkan, seperti di Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo, muncul kasus takut di-rapid test. Rerata karena khawatir hasilnya reaktif dan diminta isolasi mandiri. Tidak hanya itu terkadang muncul stigma kurang baik di masyarakat jika hasilnya tidak sesuai harapan. “Kami terus berupaya memberikan pemahaman. Bagi yang belum melakukan test ditunggu di puskesmas terdekat,” ucapnya.

Menurut Hani, total petugas KPPS di Gunungkidul sebanyak 13.300 orang, ditambah anggota linmas. Untuk linmas ada 3.800 orang. Berdasarkan data ada 40 petugas dinyatakan reaktif. Kemudian ditindaklanjuti dengan swab test.“Hasilnya 14 petugas dinyatakan positif, tapi kami juga sudah menggantinya dengan petugas baru,” ungkapnya.

Sementara itu, Panewu Karangmojo, Marwanta Hadi mengungkapkan, dari total 324 petugas KPPS di wilayahnya baru 54 orang melaksanakan rapid test. Sisanya 270 petugas belum berani menjalani melakukan rapid test. “Kami terus memberikan pemahaman. Apalagi dari 54 petugas yang menjalani rapid test, hasilnya negatif,” kata Martawanta Hadi. (gun/pra)

Gunungkidul