RADAR JOGJA – Petani cabai di Padukuhan Klayar, Kalurahan Kedungpoh, Kapanewon Nglipar mendulang untung. Sebelum musim tanam padi, mereka lebih dulu panen cabai.

Mitra Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Makmur Klayar, Mustofa mengatakan, panen kali ini merupakan cabai rawit dengan populasi 10 ribu batang. Umur panen selama 50 kali panen dengan total satu pohon menghasilkan satu kilogram cabai. Sampai selesai panen diperkirakan menghasilkan 10 ton. “Jika satu kilo dihargai Rp 20 ribu akan menghasilkan Rp 200 juta,” kata Mustofa saat dihubungi Senin (30/11).

Sementara itu, Ketua Poktan Ngudi Makmur, Khoirudin mengatakan, bersama anggotanya sekitar dua tahun terakhir menanam hortikultura jenis melon, semangka dan cabai. Di saat tempat lain sibuk mempersiapkan tanam padi, petani di wilayahnya menyisakan beberapa lahan untuk tetap mengusahakan melon dan cabe saat musim hujan.“Luas lahan melon satu hektar diperkirakan menghasilkan 30 ton melon dengan harga saat ini Rp 10 ribu, per kilogram sehingga bisa meraup hasil kurang lebih Rp 300 juta,” ujarnya.

Sistem budidaya yang dipergunakan, tanam melon tanpa lanjaran dengan buah yang dihasilkan per tanaman tiga buah, dengan per buah sekitar dua kilogram. Sistem tanpa lanjaran dikerjakan karena melon bisa berbuah tiga, sedang jika dengan lanjaran hanya menghasilkan satu buah saja seperti di Sragen atau Sukoharjo.“Dengan jumlah tiga buah per pohon jika ada kerusakan satu buah masih mensisakan dua buah,” ucapnya.

Disinggung mengenai pemasaran, menurut dia sudah terjalin pasar sehingga seberapapun hasil akan terserap pasar. Bagaimana dengan pupuk? untuk produksi pihaknya tidak tergantung pada pupuk bersubsidi, dikarenakan lebih memilih ke pupuk tunggal phospat dan KCl, juga lebih efesien. “Terbukti melon terasa manis meski musim hujan,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mendorong poktan terus mengembangkan usaha karena terbukti mampu meningkatkan pendapatan petani. Dia berharap mitra poktan juga beraedia menularkan ilmu dan melatih petani di wilayah Kapanewon Nglipar. “Dinas akan terus mensuport usaha para petani dan poktan untuk maju,” kata Bambang Wisnubroto. (gun/pra)

Gunungkidul