RADAR JOGJA – Hasil petani hortikultura di Gunungkidul cukup menjanjikan. Salah satunya tanaman bawang merah. Memasuki panen perdana, luas lahan 2.000 meter per segi hasil produksi tembus 2 ton.

Ketua Kelompok Tani Sido Mulyo Padukuhan Jambe, Kalurahan Duwet, Sugiyanto,46, mengatakan, kampungnya potensial ditanami bawang merah. Selama ini keuntungan dari hasil budidaya bawang merah dan cabai bisa menghidupi keluarga. Bahkan lebih dari cukup.

“Kami ingin para petani lainnya maju bersama. Terlebih (padukuhan) Jambe sudah menjadi salah satu sentra budidaya hortikultura di Gunungkidul,” kata Sugiyanto Rabu (25/11).

Dia mengaku senang, tetangga kapanewon Pacing Lor Pacarejo, Semanu bersedia diajak ikut budidaya bawang merah. Nah, hasilnya dalam panen perdana beberapa hari lalu hasilnya sangat menguntungkan.

“Dari lahan 2000 per segi, sudah siap panen bawang merah umur 60 hari dan telah dibeli borongan oleh pedagang pengepul bawang merah dari Bantul seharga Rp 56 juta,” ujarnya.

Menurut dia, varitas yang ditanam jenis Tajuk Thailand Nganjuk. Dia memperkirakan hasil panen bawang merah perdana mampu menghasilkan sebanyak 2 ton lebih dari lahan seluas 2000 meter per segi. “Untuk bibit menggunakan umbi bawang merah 120 kg jenis Tajuk seharga Rp 56 ribu,- per kilo,” ungkapnya.

Dikatakan, dalam satu tahun para petani bisa menanam sampai 4 kali yaitu padi-palawija-bawang merah, cabe-sayuran lain, kankung. Baru kembali tanam padi akhir bulan ini. Pihaknya berharap dinas terkait dapat membantu alat mesin pertanian berupa cultivator untuk membuat bedengan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul Bambang Wisnu Broto mengapresiasi kemandirian petani dalam budidaya tanaman horti khususnya bawang merah. “Sangat menguntungkan petani karena nilai jualnya tinggi,” kata Bambang.

Hal ini akan memberikan pendapatan petani yang baik ditengah pandemi Covid-19. Dia berharap budidaya hortikultura seperti bawang merah, cabai dan sayuran lainnya terus dikembangkan dan dipadukan dengan pariwisata sehingga menambah kesejahteraan petani. “Juga perlu dicoba secara off session atau di luar musim, karena bisa mengisi kekurangan stok dan harga yang bagus di pasaran,” ucapnya. (gun/bah)

Gunungkidul